Sumbawa Besar, sumbawanews.com – Kurang optimalnya distribusi air irigasi Bendungan Mamak menimbulkan ancaman gagal panen karena kekeringan. Khususnya bagi petani yang berada di Kecamatan Lape, seperti Desa Lape, Desa Dete, Desa Hijrah, dan Desa Labuhan Kuris.
“Kurang optimal distribusi air bendungan mamak menyebabkan potensi gagal panen. Selalu ada kendala yang terkait dengan kurangnya distribusi air setiap tahun,” kata Ketua Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sumbawa, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Sumbawa, Selasa (04/08).
Baca Juga: Anggota Komisi II DPRD Sumbawa Soroti LPG 3 Kg dan Non Subsidi
Dijelaskan, berdasarkan hasil pantauan ditemukan, sejumlah area persawahan jaringan kuris dan Lape tidak memperoleh air sesuai kesepakatan. “Distribusi belum merata pada daerah irigasi,” ungkapnya.
Sehingga sebagai tanaman padi mulai mengalami gejala gagal panen, termasuk tanaman jagung dan palawija. Dan terjadi pada 4 desa atau 40 persen Poktan di daerah hilir. “Kemungkinan gagal panen jika kondisi terus berlanjut.
Untuk itu, ia meminta melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi air bendungan mamak, Menjamin distribusi air secara adil dan melakukan peninjauan lapangan. Kemudian menyusun langkah penyelamatan serta membenahi koordinasi antara pihak-pihak terkiat.
Di tempat yang sama, KUPT Pengairan Kecamatan Lape mengungkapkan, terdapat berbagai kendala dalam distribusi air baik di saluran primer maupun saluran sekunder. Termasuk dengan keberadaan pelompong dan mesin air liar di dalam saluran irigasi.
Dikatakan, pihaknya telah membentuk piket selama 24 jam yang beranggotakan 12 orang untuk mengawal distribusi air. “Banyak tangan yang tidak bertanggung jawab yang membuka pintu air secara illegal,” jelasnya.
KUPT Pertanian Kecamatan Lape mengungkapkan, di Desa Lape terdapat 166,5 hektar padi. Kemudian Desa Dete 358 hektar, Desa Hijrah 488 hektar dan Desa Labuhan Kuris 42 hektar. Selanjutnya 74 hektar tanaman jagung di Desa Lape dan 134 hektar di Desa Labuhan Kuris.
Dari 4 desa tersebut diperkirakan terdapat potensi kekeringan dengan kategori ringan pada areal seluas hampir 50 hektar. Antara lain ancaman kekeringan ringan di hijrah seluas 12 hekatar tanaman padi dan jagung 1 hektar. Labuhan kuris 8 hektar padi terancam kekeringan ringan dan 6 hektar terancam kekeringan berat.
“Potensi kekeringan ada sekitar 50 hektar. Alhamdulillah kemarin ada distribusi air, jadi potensi itu berkurang. Ketika air tidak nyampai lagi, maka potensi yang 50 hektar itu kemungkinan akan bertembah,” ungkap dia.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sumbawa menambahkan, terdapat 3.884 hektare areal Daerah Irigasi (DI) Bendungan Mamak. Dan Mei 2026 telah sepakati luas tanam padi yakni 2.044 hektar dan sisanya palawija terdiri jagung dan kacang hijau.
Sedangkan berdasarkan laporan dari KUPT Pengairan Lape saat ini, areal tanam padi yakni 2500 hektar. “Ini masalah, ini akar masalah. Jadi pada saat Menyusun pola tanam mempertimbangkan ketersediaan air di bendungan,” ungkap dia.
Sehingga jika terjadi pergeseran maka akan terjadi persoalan distribusi air. “Ini pergeserannya cukup jauh. Ada padi hampir seluas 500 hektar yang seharusnya tidak ditanam padi. Ini yang menyebabkan system distribusi menjadi kacau,” katanya.
Ditambahkan, Panjang jaringan irigasi Bendungan Mamak hampir 56 km. Dan terdapat Banyak terjadi persoalan diareal irigasi mamak di BM1 hingga BM4, termasuk pintu primer yang diturunkan oleh masyarakat karena ada penurunan elevasi saluran. Kemudian juga banyak kehilangan air dalam distribusi yang disebabkan pelompong liar dan pompa air.
“Disana kami deteksi ada lebih dari 140 titik pelompong liar yang harus kita amankan. Ada 30 lebih mesin air dengan kapasitas sedot cukup besar, itu diluar areal 3884 hektar,” bebernya. (Using)















