Sumbawanews.com,- Perseteruan antara Israel dan Turki memanas setelah Israel menyerang pangkalan militer di Idlib, Suriah, pada 20 Agustus 2026. Serangan itu, yang diakui oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai peringatan, bertujuan menghentikan penguatan kehadiran militer Turki di Suriah. “Kami tidak akan menoleransi penguatan posisi militer Turki di Suriah yang mengancam Israel,” tegas Netanyahu.
Serangan ini terjadi tak lama setelah Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani Pakta Makkah, sebuah kesepakatan pertahanan bersama yang menjanjikan saling membela jika salah satu di antara mereka diserang. Sumber di Ankara mengatakan Israel sengaja memicu ketegangan untuk melemahkan kredibilitas pakta tersebut, yang dianggap Tel Aviv sebagai poros Sunni baru yang mengancam kepentingan strategisnya. Israel juga dikabarkan sedang menguji respons pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang menyambut baik kesepakatan Makkah.
Sumber lain memperingatkan bahwa ketegangan ini bisa memburuk menjelang pemilu Turki pada 2028, dan berpotensi memicu insiden serupa dengan kejadian 2015, ketika Turki menembak jatuh jet tempur Rusia. Ancaman ini diperkuat oleh rencana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk mengunjungi Damaskus akhir tahun ini—kunjungan pertamanya sejak jatuhnya rezim Assad—yang dianggap Israel sebagai sinyal penegasan pengaruh Ankara di Suriah.
Hingga kini, Arab Saudi dan Pakistan belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan Israel terhadap Turki. Sementara itu, Pemerintah Suriah mengutuk serangan itu, menyatakan delapan serangan menghantam landasan pacu pangkalan udara yang sudah tidak beroperasi. Awalnya, pejabat Israel memberikan narasi yang bertentangan, mulai dari menuduh Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mendukung pasukan proksi, sebelum kemudian mengubah narasi resmi mereka.















