Home Berita Internasional Remaja 16 Tahun di Peru Diduga Diperkosa Teman Seperjalanan di Bus

Remaja 16 Tahun di Peru Diduga Diperkosa Teman Seperjalanan di Bus

Sumbawanews.com,- Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun diduga diperkosa oleh sejumlah teman sekolahnya di dalam bus pada 15 September 2026, saat kendaraan itu membawa tim sepak bola pulang dari turnamen. Kasus ini terjadi di Peru, di mana korban adalah siswa Liceo Naval Almirante Guise, sekolah yang dikelola Angkatan Laut Peru. Pihak berwenang telah mengamankan 10 remaja, dan enam di antaranya kini ditahan di lembaga khusus anak selama empat bulan sambil menunggu proses persidangan.

Kasus ini memicu kegemparan nasional dan mengungkap masalah struktural dalam pendidikan serta budaya maskulinitas di Peru. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan 35 persen laporan kekerasan seksual antarpelajar dalam delapan bulan pertama 2026, dari 885 kasus menjadi 1.198 kasus. Para ahli, termasuk peneliti gender Eduardo Carcamo dan psikoterapis Giselle Silva, menyebut kejadian ini sebagai “puncak gunung es” dari kekerasan yang telah menjadi hal biasa. Mereka menyoroti pengurangan materi pendidikan seks komprehensif dalam kurikulum, serta budaya yang mengajarkan laki-laki untuk membuktikan kejantanannya melalui penguasaan atas tubuh orang lain.

Angkatan Laut Peru telah menonaktifkan sementara sejumlah staf sekolah dan menyerahkan pengelolaan Liceo Naval Almirante Guise kepada Kementerian Pendidikan. Direktur Kantor Pendidikan Regional Metropolitan Lima, Cornelio Gonzales, menuduh pihak sekolah lalai karena gagal melaporkan kejadian ini kepada otoritas. Menteri Pendidikan Jose Antonio Chang mengungkap bahwa sekolah tersebut mencatat 50 laporan kekerasan antarpelajar dalam dua tahun terakhir, termasuk 12 kasus dugaan pelanggaran seksual.

Presiden Peru Keiko Fujimori menuntut penyelidikan menyeluruh dan hukuman tegas bagi yang terbukti bersalah. Pengacara keluarga korban, Jorge Petrozzi, menyatakan para tersangka bisa dihukum enam hingga delapan tahun jika dinyatakan bersalah, dan keluarga korban berencana menuntut secara pidana dan perdata terhadap semua pihak yang dianggap bertanggung jawab, termasuk orang dewasa yang tidak mencegah kejadian dan pejabat pendidikan. Ibu korban menekankan bahwa ini bukan lelucon, melainkan pemerkosaan, dan meminta keadilan tanpa kebencian. Sementara itu, ayah salah satu tersangka mengatakan situasi “lepas kendali” tetapi tetap menegaskan bahwa korban “sepenuhnya benar” dan pelaku “harus membayar”.

Para ahli menekankan bahwa solusi tidak bisa hanya berhenti pada hukuman, tetapi harus mengubah budaya yang memperkuat machismo, penundukan, dan kesepian anak muda. “Situasi ini tidak akan membaik selama tidak ada budaya untuk mengakui persoalan tersebut,” kata Silva.

Previous articleEmas Kedua Bulutangkis Indonesia di Asian Games 2026, Leo/Daniel Kalahkan Ganda China
Next articlePrabowo Instruksikan Rehabilitasi Narkoba Berbasis Teknologi