Sumbawanews.com,- Beirut – Di balik ledakan bom dan asap yang mengepul di lembah-lembah hijau Lebanon Selatan, ada strategi yang lebih dalam, lebih dingin, dan lebih mematikan: penghancuran sistem pertanian sebagai senjata perang. Bukan sekadar merusak tanah, tapi menggali akar-akar kehidupan masyarakat yang telah bertahan selama berabad-abad.
Lembah Bekaa dan wilayah selatan Lebanon—tulang punggung pertanian nasional—kini berubah menjadi medan perang yang tak terlihat. Lebih dari 65 persen lahan pertanian negara itu, yang menjadi sumber nafkah bagi ratusan ribu keluarga petani, telah menjadi sasaran sistematis serangan udara Israel sejak Oktober 2023. Kebun zaitun berusia ratusan tahun terbakar, kandang ternak hancur berkeping-keping, sistem irigasi terputus, dan ladang tembakau berubah jadi tanah tercemar fosfor putih dan logam berat—bahan yang dilarang internasional dan dampaknya bisa bertahan puluhan tahun.
Menurut laporan Kementerian Pertanian Lebanon, 56.264 hektare lahan pertanian rusak, dengan 18.559 hektare berada di wilayah selatan. Lebih dari 50.000 pohon zaitun kuno, simbol budaya dan ekonomi lokal, hilang selamanya. Sebanyak 1,8 juta unggas, domba, kambing, dan sapi mati; 29.000 sarang lebah hancur; dan 2.030 ton ikan dari sektor akuakultur lenyap. Di tengah krisis ekonomi yang sudah melumpuhkan negara ini, serangan ini bukan lagi soal militer—tapi soal kelangsungan hidup.
“Ini bukan serangan terhadap milisi. Ini serangan terhadap tanah, terhadap makanan, terhadap identitas,” kata Abdallah Nassereddine, mantan penasihat menteri pertanian Lebanon. “Israel tahu bahwa ketika petani kehilangan tanahnya, mereka kehilangan harapan. Ketika mereka tak bisa kembali, mereka tak bisa bangkit.”
Strategi ini disebut sebagai “bumi hangus” yang terencana. Dengan menargetkan infrastruktur pertanian—bukan hanya lahan, tapi juga pabrik pakan ternak, gudang penyimpanan, dan jalur distribusi—Israel memutus rantai pasokan pangan lokal. Hasilnya? Produksi domestik anjlok, harga pangan melonjak, dan ketergantungan pada impor meningkat. Di saat yang sama, 77,9 persen petani di Lebanon Selatan terpaksa mengungsi, meninggalkan tanah yang menjadi warisan turun-temurun.
Analisis terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC), yang melibatkan FAO dan WFP, memperingatkan: 1,24 juta orang di Lebanon—hampir seperempat populasi yang diteliti—kini menghadapi kerawanan pangan akut. Angka ini melonjak dari 874.000 hanya enam bulan sebelumnya. Keluarga yang sebelumnya bertahan dengan sisa-sisa ekonomi, kini terdorong ke ambang kelaparan.
“Pencapaian yang susah payah diraih dalam beberapa bulan terakhir hancur dalam hitungan minggu,” kata Allison Oman Lawi dari WFP. “Ketika konflik, pengungsian, dan inflasi bertabrakan, pangan menjadi kemewahan yang tak terjangkau.”
Menteri Pertanian Lebanon, Nizar Hani, menegaskan bahwa pemulihan tak bisa dilakukan dalam satu musim tanam. Pohon zaitun butuh 7–10 tahun untuk kembali produktif. Tanah yang tercemar butuh dekade untuk diperbaiki. Sementara itu, musim semi 2026 hampir berakhir—waktu terakhir bagi petani untuk menanam sebelum musim gugur tiba. Jika tak ada intervensi, tahun ini akan menjadi tahun kelaparan yang terstruktur.
Dalam perang modern, senjata bukan lagi hanya peluru dan rudal. Kadang, yang paling mematikan adalah yang tak terlihat: sebutir benih yang tak bisa ditanam, seekor sapi yang tak bisa diberi makan, atau seorang petani tua yang tak bisa kembali ke tanahnya. Di Lebanon, Israel tidak hanya menyerang wilayah—ia menyerang masa depan.















