Sumbawanews.com,- Tengah memanasnya ketegangan di Teluk, Iran mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat dan Israel: setiap serangan baru akan dijawab dengan kekuatan yang jauh lebih luas dan lebih mematikan. Pernyataan ini dilontarkan di tengah laporan serangan udara gabungan yang menargetkan kapal-kapal milik Iran di perairan selatan Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, dan diduga menewaskan sejumlah warga sipil.
Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menegaskan bahwa jika konflik kembali meledak, respons Teheran tidak akan terbatas pada kawasan regional saja. “Respons kami akan melampaui batas geografis dan jauh lebih keras dari sebelumnya,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars, Selasa (26/5/2026). Ancaman ini bukan sekadar retorika—ia menyusul serangan udara AS-Israel pada akhir Februari lalu yang memicu balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di wilayah Timur Tengah.
Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April dan diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump, kini terasa rapuh. Meski mediasi yang dipimpin Pakistan berjalan, saling tuduh dan insiden kecil terus memicu eskalasi. Media semi-resmi Iran melaporkan bahwa serangan terbaru di Pulau Larak merupakan bagian dari upaya sistematis untuk melemahkan kapasitas maritim Iran di jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Di saat bersamaan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengambil langkah politik yang lebih luas. Dalam pesan yang disiarkan kantor berita IRNA menjelang puncak ibadah haji, Khamenei menegaskan bahwa negara-negara Timur Tengah tidak akan lagi menjadi “tameng” bagi kehadiran militer AS. “Washington tidak lagi memiliki zona aman di kawasan ini,” tegasnya. Ia pun mengajak seluruh negara Muslim dan kekuatan regional untuk membangun tatanan baru yang mandiri, berbasis kerja sama dan kedaulatan bersama, jauh dari dominasi Barat.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, kembali menjadi titik rawan. Harga energi global sempat merangkak naik setelah serangan terakhir, meski kemudian mereda seiring harapan perundingan. Namun, kepercayaan terhadap gencatan senjata semakin tipis.
Dengan pernyataan keras dari pucuk pimpinan militer hingga spiritual, Iran menunjukkan bahwa ia tidak lagi hanya bertahan—ia sedang membangun strategi balasan yang terintegrasi, komprehensif, dan berjangka panjang. Dunia pun kini menunggu: apakah diplomasi akan menang, atau kawasan ini akan tergelincir ke dalam konflik yang jauh lebih besar dari yang pernah diprediksi.















