
Sumbawanews.com,- Pasukan Israel telah melangkah lebih dalam ke wilayah kedaulatan Lebanon, dengan berhasil melintasi Sungai Litani — langkah pertama yang tercatat dalam hampir dua dekade. Pergeseran militer ini menandai perluasan signifikan dari operasi yang sebelumnya terbatas pada zona perbatasan, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan warga sipil dan pejabat Lebanon.
Sungai Litani, yang selama ini menjadi garis simbolis dan strategis antara wilayah yang dikuasai Israel dan wilayah utama Lebanon, kini berubah menjadi garis depan baru. Tentara Israel, didukung oleh serangan udara intensif dan artileri berat, berhasil menguasai sejumlah desa di sisi utara sungai, memaksa ribuan warga mengungsi ke wilayah yang lebih dalam.
Warga di kota-kota seperti Qana dan Marjayoun menggambarkan suasana kacau: jalan-jalan kosong, toko-toko ditutup, dan suara tembakan serta ledakan menggema sepanjang hari. “Kami tidak lagi merasa aman bahkan di dalam rumah,” kata Fatima Haddad, seorang ibu berusia 52 tahun yang mengungsi ke Beirut selatan. “Dulu, kami pikir Litani adalah batas yang tidak akan dilanggar. Sekarang, tidak ada lagi batas.”
Pemerintah Lebanon mengecam invasi ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan kedaulatan nasional. Menteri Pertahanan, Youssef Fenian, menegaskan bahwa militer Lebanon “akan mempertahankan setiap inci tanah airnya,” meskipun mengakui ketimpangan kekuatan militer yang sangat besar dengan Israel.
Di tingkat internasional, seruan untuk gencatan senjata kian menguat. PBB mengutuk “perluasan skala konflik” dan mendesak semua pihak untuk segera kembali ke meja perundingan. Uni Eropa dan sejumlah negara Arab, termasuk Mesir dan Yordania, meminta Israel menghentikan operasi militer dan menarik pasukannya ke garis batas sebelum 2006.
Namun, Israel bersikeras bahwa operasi ini adalah respons terhadap ancaman terus-menerus dari Hezbollah, yang dikatakan menyimpan ribuan rudal di seluruh Lebanon selatan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan, “Kami tidak akan membiarkan Lebanon menjadi pangkalan teroris yang mengancam warga kami.”
Sementara itu, di dalam Lebanon, rasa frustrasi tumbuh bukan hanya terhadap Israel, tetapi juga terhadap pemerintah yang dianggap lemah dalam melindungi rakyat. Demonstrasi kecil pecah di beberapa kota, dengan warga menuntut reformasi militer dan kebijakan keamanan yang lebih jelas.
Dengan konflik yang semakin memburuk dan tidak ada tanda-tanda penyelesaian diplomatik, Lebanon berada di ambang krisis kemanusiaan yang lebih dalam — sementara dunia menunggu, apakah langkah berikutnya akan berupa perang yang lebih luas, atau upaya damai yang benar-benar serius.














