Sumbawanews.com,- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik timur yang diduga mengangkut narkoba, menewaskan tiga orang. Insiden ini menjadi serangan ketiga dalam seminggu dan memperkuat kampanye militer AS yang telah menewaskan 202 orang sejak dimulai pada awal September 2025.
Dalam pernyataan resmi, Komando Selatan AS menyatakan kapal tersebut dioperasikan oleh organisasi yang telah ditetapkan sebagai kelompok teroris, meski tidak menyajikan bukti konkret untuk mendukung tuduhan tersebut. Video yang beredar di media sosial menunjukkan kapal kecil yang terbakar hebat setelah ditembaki, dengan sejumlah bungkusan tersebar di permukaan laut — diduga sebagai barang bukti narkotika.
Operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memerangi jaringan kartel narkoba di Amerika Latin, yang disebut sebagai ancaman bersenjata terhadap keamanan domestik AS. Serangan terbaru dilakukan atas perintah Jenderal Francis L. Donovan, komandan tertinggi Komando Selatan AS, yang pada hari yang sama juga mengadakan pertemuan dengan pejabat militer Kuba di sekitar Pangkalan Guantanamo.
Kampanye ini menuai kontroversi. Meski pemerintah AS menekankan bahwa targetnya adalah kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan narkoba lintas batas, kritikus mempertanyakan legalitas serangan militer terhadap kapal sipil di perairan internasional, terutama tanpa bukti publik yang jelas atau kerja sama hukum dengan negara asal kapal.
Sejak awal kampanye, AS telah menargetkan rute penyelundupan utama dari Amerika Tengah dan Selatan menuju pantai barat Meksiko dan Amerika Serikat. Namun, meningkatnya korban jiwa — termasuk awak kapal yang belum jelas identitas dan keterlibatannya — memicu kekhawatiran dari organisasi hak asasi manusia dan negara-negara regional tentang pelanggaran hukum laut internasional.
Pemerintah AS tetap bersikeras bahwa tindakan tegas diperlukan untuk menghentikan arus narkoba yang mengalir ke wilayahnya. “Kami tidak berperang terhadap rakyat, tapi terhadap jaringan kriminal yang mengancam nyawa warga Amerika,” demikian pernyataan Komando Selatan AS.
Sementara itu, negara-negara di kawasan Pasifik dan Karibia terus memantau perkembangan operasi ini, khawatir bahwa pendekatan militer yang semakin agresif bisa memicu eskalasi ketegangan di wilayah yang selama ini dianggap relatif stabil.















