Sumbawanews.com,- Pertempuran sengit di Kongo Timur kini menghambat upaya global menahan wabah Ebola strain Bundibugyo yang semakin mengganas. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa wilayah itu sedang mengalami “tabrakan kiamat” antara konflik bersenjata dan wabah penyakit mematikan.
Sejak pengumuman wabah pada 15 Mei 2026, setidaknya 10 kasus konfirmasi dan 220 kasus diduga telah berujung kematian. Lebih dari 900 kasus dicurigai terinfeksi, meski WHO memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena akses terbatas ke daerah terpencil. Strain Bundibugyo—yang belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi—menyebar dengan kecepatan mengkhawatirkan di provinsi Ituri, di tengah kehancuran infrastruktur kesehatan akibat konflik berkepanjangan selama tiga dekade.
“Kita tidak bisa membangun kepercayaan masyarakat atau mengisolasi pasien saat bom masih jatuh,” tegas Tedros dalam pernyataannya di platform X. Serangan terhadap fasilitas kesehatan, pengungsian massal ke kamp-kamp padat, dan terputusnya jalur penelusuran kontak membuat petugas lapangan hampir tak mampu bekerja. Ia mendesak semua pihak yang terlibat konflik untuk segera menghentikan permusuhan demi memberikan akses aman bagi tim medis.
Kondisi di Ituri semakin memprihatinkan karena pemerintah hampir tidak hadir di wilayah pedesaan selama puluhan tahun. Penduduk yang terusir dari rumahnya kini terjebak di kamp-kamp pengungsian tanpa sanitasi memadai, mempercepat penyebaran virus. WHO menekankan bahwa satu-satunya cara menghentikan wabah ini adalah melalui akses kemanusiaan yang stabil dan tanpa hambatan.
Di luar Kongo, risiko penyebaran juga mengancam sepuluh negara tetangga: Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Zambia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) telah memperingatkan kemungkinan transmisi lintas batas, terutama melalui pergerakan penduduk dan perdagangan.
Meski risiko penyebaran global masih dianggap rendah, WHO terus memantau ketat kasus-kasus di kalangan tenaga kesehatan dan penyebaran di kawasan perkotaan. “Kita sedang berlomba melawan waktu,” kata Tedros. “Dan waktu itu tidak menunggu siapa pun.”















