Sumbawanews.com,- Taipei — Sebuah pesawat latih militer Beechcraft T-34 jatuh saat menjalani simulasi kegagalan mesin di Pangkalan Udara Gangshan, Kaohsiung, Taiwan, pada Selasa (2/6/2026). Kecelakaan itu menewaskan dua pilot berpangkat letnan kolonel, yakni Lu dan Guo, yang sedang menjalani pelatihan intensif sebelum ditempatkan ke jet tempur.
Insiden terjadi pukul 08.08 waktu setempat, ketika pesawat bermesin tunggal itu kehilangan kendali di ujung landasan pacu. Badan Angkatan Udara Taiwan langsung membentuk tim investigasi khusus untuk menentukan penyebab pasti kegagalan teknis atau manusia yang memicu bencana tersebut.
Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan duka mendalam atas kehilangan kedua pilot tersebut. Dalam pernyataan resminya, Lai menyebut mereka sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi keamanan negara. “Dedikasi dan keberanian mereka akan selalu diingat sebagai bagian dari semangat pertahanan Taiwan,” ujar Lai.
Beechcraft T-34, yang pertama kali dioperasikan di Taiwan sejak 1984, tetap menjadi tulang punggung program pelatihan penerbang militer hingga kini. Meski usianya sudah lebih dari empat dekade, pesawat ini masih diandalkan karena keandalannya dalam mengajarkan dasar-dasar penerbangan sebelum calon pilot beralih ke pesawat tempur generasi modern.
Insiden ini menjadi kecelakaan penerbangan militer ketiga yang tercatat di Taiwan tahun ini. Pada Januari, sebuah jet tempur F-16 jatuh ke laut lepas pantai timur pulau itu saat misi latihan rutin. Pilotnya dikabarkan berhasil melontarkan diri, tetapi hingga kini belum ditemukan, memperdalam kekhawatiran akan kesiapan armada udara yang menua.
Kecelakaan ini kembali memicu diskusi di kalangan pakar pertahanan tentang tekanan yang dihadapi angkatan udara kecil seperti Taiwan dalam mempertahankan alutsista tua sambil menunggu modernisasi yang terhambat oleh tantangan geopolitik dan anggaran terbatas.
Dengan kehilangan dua pilot berpengalaman dalam waktu singkat, Angkatan Udara Taiwan kini dihadapkan pada tantangan ganda: menyelidiki penyebab insiden sekaligus menjaga moral dan kelangsungan pelatihan penerbangnya di tengah ancaman yang semakin nyata.















