Sumbawanews.com,- Amerika Serikat mengirim sinyal tegas bahwa ia siap melanjutkan konflik bersenjata dengan Iran, meski gencatan senjata sementara baru saja diperpanjang. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam pidato di konferensi pertahanan Asia, menyatakan bahwa pasukan dan persediaan militer AS “lebih dari cukup” untuk memicu kembali operasi militer di Timur Tengah — baik di wilayah Iran maupun di seluruh dunia. “Kami berada di posisi yang sangat baik,” ujarnya, menekankan keunggulan amunisi canggih dan logistik yang tak tergoyahkan.
Pernyataan Hegseth diiringi oleh sinyal serupa dari Komando Pusat AS (CENTCOM), yang menegaskan bahwa pasukan AS tetap “hadir dan waspada” di seluruh kawasan strategis Timur Tengah. Ini bukan sekadar kehati-hatian militer, tapi sebuah peringatan terselubung: perang belum berakhir, hanya tertunda.
Di sisi lain, Iran menanggapi dengan ketegasan yang tak kalah keras. Meski kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka jalur negosiasi soal program nuklir, Teheran menolak tegas syarat utama Washington: pelucutan total senjata nuklir. Presiden Donald Trump, yang masih memegang kendali kebijakan luar negeri AS, bersikeras bahwa Iran “tidak akan pernah memiliki senjata atau bom nuklir,” dan menuntut pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa biaya atau batasan.
Namun, para pejabat Iran menolak mentah-mentah tuntutan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa negosiasi nuklir hanya bisa dimulai *setelah* konflik bersenjata benar-benar berakhir. Sementara itu, Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pesan tegas: “Kami tidak mendapat konsesi lewat pembicaraan — tapi lewat rudal.”
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Di tengah ketegangan, pemerintah Iran terus memperkuat mobilisasi sosial: ribuan pasangan muda mengikuti pernikahan massal di alun-alun Teheran, bagian dari program “janfada” — pengorbanan diri untuk negara. Acara yang disiarkan langsung televisi nasional itu menjadi simbol ketahanan ideologis, sekaligus respons terhadap ancaman militer AS.
Trump sendiri dilaporkan menggelar pertemuan darurat di Gedung Putih dengan para penasihatnya, namun tak menghasilkan keputusan. Sumber internal mengatakan, sang presiden tetap berpegang pada prinsip: tidak ada kompromi pada nuklir Iran. Sementara itu, Israel — yang sejak lama menentang setiap upaya damai antara AS dan Iran — terus berupaya menggagalkan kesepakatan, bahkan dikabarkan menekan Trump lewat telepon untuk tetap melanjutkan tekanan militer.
Dalam situasi ini, keduanya berjalan di tepi jurang: AS menawarkan kekuatan militer sebagai jaminan, sementara Iran menawarkan ketahanan ideologis sebagai benteng. Perang mungkin belum meledak, tapi api sudah menyala di kedua sisi — dan hanya satu hal yang pasti: tidak ada yang mau mundur.















