Sumbawanews.com,- Jakarta – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata, termasuk diskusi serius mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurut Vance, kedua pihak telah menjalin dialog intensif dalam beberapa pekan terakhir, dengan sejumlah isu teknis mulai menemukan titik temu.
Namun, ia menekankan bahwa perbedaan mendasar masih bertahan, terutama terkait stok uranium yang diperkaya oleh Iran. AS tetap menuntut pengurangan drastis terhadap cadangan uranium yang melebihi batas kesepakatan nuklir sebelumnya, sementara Iran menolak untuk mengorbankan kapasitas nuklir sipilnya demi memenuhi tuntutan luar negeri.
Pernyataan Vance ini muncul setelah serangkaian pertemuan tertutup antara perwakilan diplomatik kedua negara di Oman, yang dianggap sebagai lokasi netral strategis dalam upaya mediasi. Sumber diplomatik mengatakan, kedua belah pihak kini tengah menyusun kerangka kesepakatan sementara yang bisa diterapkan dalam waktu dekat, meski belum ada jadwal pasti untuk penandatanganan resmi.
Kemajuan ini dinilai sebagai terobosan penting mengingat ketegangan yang sempat memuncak akibat serangan balasan antara Iran dan sekutu AS di kawasan Teluk selama beberapa bulan terakhir. Pembukaan kembali Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia—dipandang sebagai langkah krusial untuk menstabilkan harga energi global dan menghindari risiko konflik berskala lebih luas.
Meski optimis, Vance memperingatkan bahwa kesepakatan belum final. “Kami masih berjalan di atas es yang tipis,” katanya dalam konferensi pers di Washington. “Kemajuan nyata ada, tapi kepercayaan belum sepenuhnya pulih.”
Pemerintah Iran hingga kini belum memberikan komentar resmi, meski pejabat tinggi Teheran sebelumnya menyatakan kesiapan untuk “membangun jembatan diplomasi” selama AS menunjukkan niat baik dan menghormati hak kedaulatan Iran.















