Sumbawanews.com,- Pada 6 September 1966, di ruang sidang Parlemen Afrika Selatan yang seluruh anggotanya berkulit putih, seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut abu-abu mendekati Perdana Menteri Hendrik Frensch Verwoerd. Tanpa kata-kata, ia menarik pisau dan menikamnya empat kali di dada dan leher. Darah membasahi karpet merah, dan dalam hitungan menit, sang arsitek apartheid gugur—belum sempat sampai ke rumah sakit.
Verwoerd, lahir di Amsterdam pada 1901, bukanlah putra Afrika Selatan. Ayahnya, seorang pedagang religius dari Belanda, pindah ke Afrika pada 1903 karena simpati terhadap bangsa Afrikaner pasca Perang Afrika Selatan. Keluarganya berpindah-pindah: dari Cape Town ke Bulawayo, lalu kembali ke Brandfort di Negara Bagian Oranye. Di tanah yang bukan aslinya, Verwoerd tumbuh menjadi tokoh yang membangun sistem rasial paling kejam abad ke-20.
Sebagai perdana menteri sejak 1958, ia merancang dan memperdalam apartheid—sistem hukum yang memisahkan warga berdasarkan warna kulit: kulit putih, kulit hitam, kulit berwarna, dan Asia. Pribumi dipaksa pindah ke “reservasi” terpencil, hak sipil dicabut, dan perlawanan dihancurkan. Nelson Mandela dan ratusan aktivis anti-apartheid dijebloskan ke penjara, termasuk Robben Island, atas dakwaan yang dirancang khusus untuk menghancurkan perlawanan mereka.
Pembunuhnya, Demetrio Tsafendas, adalah seorang kurir parlemen keturunan campuran Yunani-Swazi, imigran dari Mozambik. Ia tidak bertindak sebagai aktivis politik. Tak ada bukti ia membenci Verwoerd karena kebijakannya. Dokter psikiatri menyimpulkan ia menderita skizofrenia parah. Pengadilan memutuskan ia tidak bertanggung jawab secara hukum. Tsafendas dikurung di rumah sakit jiwa di dekat Johannesburg selama 33 tahun—hingga meninggal pada 1999, tanpa pernah diadili, tanpa pernah dibebaskan.
Meski Verwoerd tewas, sistem yang ia bangun tak runtuh seketika. Apartheid tetap berjalan selama dua dekade lebih. Baru pada 1993, setelah tekanan internasional, perlawanan internal, dan negosiasi berdarah, sistem itu resmi dihapus. Nelson Mandela, yang selama 27 tahun dipenjara atas perintah Verwoerd, dibebaskan pada 1990. Pada 1994, ia menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, memimpin negara yang dulu menganggapnya sebagai teroris.
Kematian Verwoerd bukanlah akhir dari apartheid—tapi awal dari kebangkitan yang tak terbendung. Dan Tsafendas, sang kurir yang gila, menjadi simbol tak terduga: bukan pahlawan, bukan pembunuh politik, tapi seorang manusia yang hancur oleh kegilaan, yang tanpa sengaja menghancurkan arsitek kebencian.

















