Sumbawanews.com,- Senator Tim Sheehy dari Montana mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas ketertinggalan drastis industri maritim Amerika Serikat dibandingkan China. Dalam wawancara dengan Fox News, mantan anggota Navy SEAL itu menyatakan bahwa kapasitas produksi galangan kapal China kini mencapai sekitar 230 kali lebih besar daripada Amerika Serikat — sebuah jurang yang tidak hanya bersifat angka, tapi menjadi ancaman strategis bagi keamanan nasional AS.
Kesenjangan ini bukanlah fenomena baru, melainkan hasil dari kebijakan jangka panjang yang mengabaikan investasi pada sektor manufaktur berat. Selama lebih dari tiga dekade, pemerintah AS cenderung mengandalkan dominasi militer di bidang senjata dan teknologi, sambil membiarkan infrastruktur galangan kapal memudar. Banyak fasilitas ditutup, rantai pasok lokal runtuh, dan ribuan pekerja terampil menghilang tanpa generasi pengganti yang memadai.
Sheehy menekankan bahwa membangun kapal perang bukan sekadar membeli baja atau mesin. Ia membutuhkan ekosistem kompleks: puluhan pemasok lokal, pelabuhan khusus, tenaga kerja terlatih bertahun-tahun, serta sistem logistik yang terintegrasi. “Kita kehilangan kemampuan itu perlahan, tapi memulihkannya akan memakan waktu puluhan tahun lagi,” ujarnya.
Sementara itu, China terus memperluas armada lautnya dengan kecepatan luar biasa. Galangan-galangan di Shanghai, Dalian, dan Guangzhou mampu memproduksi kapal perang, kapal induk, dan kapal logistik dalam jumlah masif, dengan siklus perbaikan yang jauh lebih cepat dibandingkan galangan AS yang kini kekurangan tenaga ahli dan peralatan mutakhir.
Kondisi ini menjadi sorotan tajam di tengah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membangkitkan kembali industri maritim domestik. Pada April 2025, Trump menandatangani Maritime Action Plan (MAP), sebuah strategi nasional yang bertujuan memperkuat rantai pasok lokal, merevitalisasi galangan kapal yang masih beroperasi, dan melatih puluhan ribu pekerja baru di sektor ini. Namun, para ahli menilai upaya ini masih terlambat — dan terlalu ambisius untuk mengejar ketertinggalan selama 30 tahun dalam waktu singkat.
Dengan China yang kini menguasai lebih dari 40% kapasitas produksi kapal dunia, dan AS yang berjuang untuk mempertahankan satu persen saja, jurang kekuatan maritim antara dua negara semakin menjadi simbol ketidakseimbangan geopolitik di Indo-Pasifik. Bagi AS, membangun kembali industri kapal bukan hanya soal anggaran, tapi soal membangun kembali sebuah peradaban industri yang hampir hilang.















