Sumbawanews.com,- Puncak ibadah haji tahun ini berlangsung dalam terik yang luar biasa, dengan suhu di kawasan Mina mencapai 44 derajat Celsius. Ribuan jemaah dari seluruh penjuru dunia tetap berbondong-bondong melaksanakan ritual lempar jumrah, meski panas menyengat membelit udara dan aspal yang meleleh di bawah kaki.
Di tengah lautan manusia yang mengalir seperti sungai, jemaah berjalan pelan, memegang botol air, kain penutup kepala basah, dan doa yang tak pernah putus. Beberapa terlihat duduk di tepi jalan, menunggu kesempatan untuk maju ke tiang-tiang jumrah, sementara petugas kesehatan bergerak lincah membawa cairan elektrolit dan payung darurat. Di sepanjang jalur, tenda-tenda pendingin berdiri sebagai oase kecil di tengah gurun panas.
Suhu ekstrem ini bukanlah kejadian tak terduga. Badan Meteorologi Arab Saudi telah memperingatkan gelombang panas sebelum pelaksanaan ritual wukuf dan lempar jumrah. Namun, keteguhan hati jemaah tak tergoyahkan. Bagi mereka, setiap langkah di bawah terik matahari adalah bentuk pengorbanan spiritual—bukan sekadar fisik, tapi juga kepasrahan yang mendalam.
Foto-foto yang tersebar dari lokasi menunjukkan pemandangan yang memukau sekaligus mengharukan: jemaah berjalan dengan kain ihram yang menempel di tubuh, wajah-wajah yang berkeringat namun tenang, dan tangan-tangan yang melempar batu kecil ke tiang-tiang simbolik, seolah melempar beban dunia.
Pemerintah Arab Saudi telah mengerahkan ribuan petugas, sistem penyemprotan air otomatis, dan jalur pendingin khusus untuk menjaga keselamatan jemaah. Meski demikian, tantangan iklim yang semakin ekstrem menjadi pengingat nyata: ibadah haji, yang telah berlangsung selama lebih dari 1.400 tahun, kini harus berhadapan dengan realitas perubahan iklim global.
Di balik setiap lemparan batu, ada satu harapan: bukan hanya pengampunan dosa, tapi juga keberlanjutan tempat suci ini bagi generasi yang akan datang.















