Home Berita Internasional 33 Warga Palestina Tewas di Gaza Saat Idul Adha

33 Warga Palestina Tewas di Gaza Saat Idul Adha

Sumbawanews.com,- Gaza — Perayaan Idul Adha 1447 H berubah menjadi duka mendalam bagi warga Gaza. Dalam rentang empat hari libur keagamaan itu, setidaknya 33 warga sipil tewas akibat serangan udara dan tembakan pasukan Israel, sementara lebih dari 130 lainnya luka-luka. Angka ini diumumkan oleh otoritas kesehatan Gaza pada Minggu, 31 Mei 2026, menandai salah satu periode paling berdarah sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diharapkan membawa ketenangan, serangan berlanjut tanpa henti. Pada dini hari Minggu, seorang pria Palestina tewas di Kota Gaza akibat luka serius dari serangan sehari sebelumnya. Di Deir al-Balah, Gaza tengah, Direktur Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs, Riad Hussein, mengungkapkan kondisi kritis: generator listrik rusak akibat blokade berkepanjangan, membuat ruang operasi, unit perawatan intensif, layanan cuci darah, dan perawatan neonatal terancam berhenti total dalam waktu dekat.

“Kami tidak punya bahan bakar, tidak ada cadangan listrik, dan pasokan medis hampir habis,” kata Hussein. “Ini bukan lagi soal perang—ini adalah kehancuran sistematis terhadap kehidupan.”

Data dari Kantor Media Gaza menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 925 warga Palestina tewas dan lebih dari 2.810 lainnya terluka. Angka ini menambah daftar panjang korban konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023—dengan total lebih dari 73.000 jiwa tewas dan 172.000 luka-luka, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Di tengah keheningan malam Idul Adha, ketika umat Muslim di seluruh dunia merayakan kurban dan kebersamaan, warga Gaza harus mengubur keluarga mereka di bawah debu dan puing. Di Khan Younis, ratusan warga berbaris menunggu bantuan makanan, sementara suara tembakan masih menggema di kejauhan.

PBB dan organisasi kemanusiaan terus menyerukan penghentian segera serangan terhadap warga sipil, tetapi upaya diplomasi tampak mandek. Sementara itu, di balik tembok-tembok reruntuhan, ibu-ibu masih membisikkan takbir di malam hari—bukan untuk merayakan, tapi untuk menenangkan anak-anak yang terbangun oleh ledakan.

Idul Adha, yang seharusnya menjadi simbol pengorbanan dan rahmat, kini menjadi pengingat pahit: bahwa dalam perang, bahkan hari-hari suci pun tak lagi suci.

Previous articlePresiden Prabowo Hadiri Persemayaman Jenderal Ryamizard
Next articleMi6: NTB Butuh Pemimpin Petarung, Mori Hanafi Salah Satu Jawabannya
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik