Sumbawanews.com,- Pembersihan besar-besaran yang digelorakan Presiden China Xi Jinping di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) kini memasuki fase paling menghantui dalam sejarah modern militer Tiongkok. Dua mantan menteri pertahanan, Li Shangfu dan Wei Fenghe—keduanya dikenal sebagai sekutu dekat Xi—dihukum mati dengan penangguhan, atas dakwaan suap dan korupsi. Hukuman seberat itu, yang jarang dijatuhkan pada jenderal setinggi mereka, bukan sekadar pemberantasan korupsi: ini adalah sinyal tegas bahwa loyalitas pribadi tak lagi menjadi perisai di bawah kepemimpinan Xi.
Kampanye yang secara resmi disebut sebagai gerakan anti-korupsi kini berubah menjadi mesin ketakutan sistemik. Para perwira menengah dan junior mulai hidup dalam paranoia, takut bahwa langkah salah, hubungan yang salah, bahkan keberhasilan yang terlalu mencolok bisa menjadi bahan investigasi. Komando militer yang seharusnya lincah dan responsif kini terpaku oleh ketakutan akan konsekuensi politik. Para komandan enggan mengambil inisiatif, sementara keputusan strategis tertunda karena takut dianggap melanggar garis merah yang tak tertulis.
Pembersihan tak berhenti di level menteri. Pada Januari 2026, penyelidikan terhadap Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat dan satu-satunya jenderal China yang pernah bertempur langsung dalam perang China-Vietnam 1979, diumumkan. Bersamanya, Liu Zhenli, kepala Departemen Staf Gabungan PLA, menghilang dari publik—meski masih secara formal memegang jabatan. Keduanya tidak pernah muncul lagi di acara resmi, memicu kekosongan kepemimpinan di saat China sedang berlari menuju modernisasi militer 2027.
Ketidakstabilan di puncak struktur militer berdampak langsung pada kesiapan operasional. Kasus Wei Fenghe, yang sebelumnya memimpin Pasukan Roket China, membangkitkan keraguan tentang keandalan sistem komando nuklir Beijing. Sementara itu, jatuhnya Li Shangfu—yang mengawasi pengadaan senjata dan teknologi militer—membuka jendela ke kerentanan sistem logistik dan industri pertahanan Tiongkok, yang selama ini dianggap sebagai kekuatan tersembunyi.
Sejak 2022, Xi telah menyingkirkan lima dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat, menyisakan hanya dirinya dan Zhang Shengmin. Kontrol pribadi memang semakin terkonsolidasi, tetapi harga yang dibayar sangat tinggi: moral tempur menurun, kepercayaan antarjajaran hancur, dan struktur komando mulai kehilangan koherensi. Para analis mendeskripsikan PLA sebagai “raksasa yang mengalami kelumpuhan otak”—kuat secara jumlah dan teknologi, tetapi lumpuh oleh ketakutan dan ketidakpercayaan di jantungnya.
Dampaknya tak terbatas pada dalam negeri. Di panggung global, citra China sebagai kekuatan militer yang stabil dan terpercaya mulai goyah. Militer yang sibuk membasmi internalnya sulit memproyeksikan kekuatan secara kredibel ke luar. Upaya mengejar kesetaraan dengan Amerika Serikat pada 2027 kini terancam bukan oleh teknologi lawan, tetapi oleh keretakan di dalam dirinya sendiri.
PLA mungkin tetap menjadi militer terbesar di dunia. Tapi di bawah atmosfer ketakutan yang terus membesar, kekuatannya bisa runtuh dari dalam—tanpa tembakan, tanpa perang, tanpa serangan eksternal. Hanya oleh keheningan yang menakutkan di ruang rapat tertutup, dan oleh kekosongan yang semakin dalam di kursi-kursi pimpinan.















