Sumbawanews.com,- Washington — Di tengah gemuruh kekhawatiran akan keunggulan teknologi China, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi meluncurkan inisiatif nasional untuk mempercepat pengembangan komputer kuantum yang mampu merevolusi ilmu pengetahuan, keamanan, dan ekonomi global. Dalam sebuah acara di Gedung Putih pada Senin lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menggabungkan kekuatan pemerintah, industri teknologi terkemuka, dan lembaga riset untuk mencapai target ambisius: menciptakan komputer kuantum pertama yang siap pakai untuk penelitian ilmiah pada tahun 2028.
Tidak seperti upaya sebelumnya yang terfragmentasi, kali ini seluruh pemain utama teknologi AS — termasuk Google, IBM, dan sejumlah startup kuantum — berdiri di samping pemerintah, menandai kolaborasi tanpa precedent dalam sejarah teknologi militer-industri. Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, menyatakan bahwa tujuan bukan sekadar inovasi, tapi “mempertahankan dominasi teknologi strategis abad ke-21.”
Komputer kuantum, yang bekerja dengan qubit daripada bit konvensional, memanfaatkan prinsip fisika kuantum seperti superposisi dan keterkaitan (entanglement) untuk memproses informasi secara eksponensial lebih cepat. Sebuah mesin kuantum dengan hanya 50 qubit mampu menyelesaikan perhitungan yang memakan waktu ribuan tahun bagi superkomputer tercanggih saat ini dalam hitungan menit. Potensi aplikasinya luas: merancang obat baru, mengoptimalkan rantai pasok global, memecahkan masalah iklim kompleks, hingga membangun kecerdasan buatan yang jauh lebih canggih.
Namun, kekuatan yang sama juga membawa ancaman mengerikan. Sistem enkripsi yang melindungi data keuangan, infrastruktur kritis, komunikasi militer, dan rahasia negara — yang saat ini dianggap tak terobek — berisiko runtuh dalam sekejap jika komputer kuantum mencapai tingkat kestabilan dan skalabilitas yang cukup. Inilah yang mendorong Pentagon dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk mempercepat pengembangan kriptografi pasca-kuantum, sambil memperdalam investasi dalam sensor kuantum dan sistem deteksi ancaman berbasis fisika kuantum.
China, yang telah menginvestasikan ratusan miliar dolar dalam riset kuantum selama dekade terakhir, kini menjadi fokus utama strategi AS. Beijing telah menguji coba jaringan kuantum antar-kota, meluncurkan satelit kuantum, dan mengklaim kemajuan signifikan dalam jumlah qubit yang dapat dikendalikan. Dalam laporan terbaru dari Komisi Keamanan Nasional AS, China dianggap berada di jalur yang sama — atau bahkan lebih cepat — dalam pencapaian “keunggulan kuantum praktis.”
Trump tidak menyembunyikan niatnya. “Kita tidak bisa membiarkan China mengendalikan masa depan,” ujarnya dalam pidato sebelum penandatanganan. “Ini bukan soal teknologi biasa. Ini soal kedaulatan, keamanan, dan kejayaan bangsa kita.”
Langkah ini juga menandai pergeseran besar dalam kebijakan teknologi AS: dari pendekatan reaktif menjadi ofensif. Dana federal yang sebelumnya tersebar di berbagai proyek riset kini akan dipusatkan melalui program “Quantum Accelerator,” dengan insentif pajak besar bagi perusahaan swasta yang berkolaborasi dengan laboratorium nasional. Pemerintah juga membentuk tim khusus yang terdiri dari ilmuwan, jenderal, dan eksekutif teknologi untuk memantau progres bulanan.
Dengan target 2028 yang jelas, dunia kini berada di ambang lompatan teknologi yang bisa mengubah tatanan kekuatan global. Bukan lagi soal siapa yang memiliki senjata nuklir terbanyak, tapi siapa yang bisa mengendalikan kekuatan komputasi masa depan — dan dengan itu, mengendalikan rahasia, keamanan, dan bahkan masa depan peradaban digital.
Di balik layar, para ahli keamanan siber sudah memperingatkan: jika AS gagal mencapai target itu, dunia mungkin akan memasuki era di mana keamanan digital menjadi ilusi — dan China menjadi pemegang kunci utamanya.















