Sumbawanews.com,- Selama dua periode kepresidenannya, Donald Trump tidak hanya mengandalkan diplomasi—ia juga sering menjadikan ancaman militer sebagai alat kebijakan luar negeri. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, ia secara terbuka menyebut 15 negara sebagai target potensial serangan AS, baik melalui pernyataan langsung maupun opsi yang tidak dikesampingkan. Angka ini setara dengan satu dari setiap 11 penduduk dunia yang hidup di negara yang pernah disebut dalam ancaman sang presiden.
Pada Rabu lalu, Oman menjadi negara terbaru yang masuk dalam daftar itu. Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump memperingatkan: “Oman akan bersikap seperti negara lain, atau kami harus menghancurkan mereka.” Ancaman itu muncul setelah kekhawatiran AS terhadap kemungkinan kerja sama Oman-Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak global.
Namun, Oman bukanlah penutup daftar. Dalam 16 bulan pertama masa jabatan keduanya, Trump telah memerintahkan serangan militer langsung ke tujuh negara: Iran, Irak, Nigeria, Somalia, Suriah, Venezuela, dan Yaman. Beberapa dari negara ini juga menjadi sasaran pada masa jabatan pertamanya (2017–2021). Serangan-serangan itu, menurut laporan, sebagian besar ditujukan pada kelompok bersenjata atau jaringan narkoba, meski korban sipil tetap berjatuhan—termasuk lebih dari 190 orang yang tewas dalam operasi laut di Karibia dan Pasifik, tanpa klarifikasi pasti apakah mereka benar-benar terlibat dalam perdagangan narkotika.
Di luar serangan langsung, Trump juga secara konsisten membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap delapan negara lain: Kanada, Kolombia, Kuba, Greenland (wilayah otonom Denmark), Meksiko, Panama, Oman, dan Venezuela. Dari delapan ini, lima di antaranya—Kanada, Kuba, Greenland, Panama, dan Venezuela—secara eksplisit disebutnya sebagai kandidat potensial untuk dikuasai atau diintegrasikan ke dalam wilayah AS, terutama Terusan Panama yang dianggapnya sebagai aset strategis.
Pola ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam logika kebijakan luar negeri AS: dari diplomasi multilateral menuju pendekatan unilateral yang agresif. Timur Tengah menjadi fokus utama, dengan lima negara di kawasan itu—Iran, Irak, Oman, Suriah, dan Yaman—menjadi sasaran ancaman atau serangan. Sementara itu, cakupan geografisnya meluas ke empat benua: Afrika, Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Bahkan Eropa ikut tersentuh, meski secara tidak langsung, melalui pembahasan tentang kemungkinan pengambilalihan Greenland.
Tak semua ancaman itu disampaikan dengan nada keras. Beberapa disampaikan secara santai, seolah hanya sebagai opsi yang “tidak bisa diabaikan.” Namun, repetisi dan konsistensi pola ini membuatnya lebih dari sekadar retorika. Ini adalah strategi yang menggabungkan intimidasi, ketidakpastian, dan kekuatan militer sebagai alat pengaruh—sebuah pendekatan yang mengubah presiden AS menjadi sosok yang tidak hanya memimpin negara, tetapi juga mengancam sebagian besar peta dunia.
Dengan 15 negara yang pernah disebut dalam konteks ancaman atau serangan, Trump menjadi satu-satunya presiden AS yang secara sistematis menjadikan kekerasan militer sebagai bagian dari narasi kekuasaannya—bukan sebagai pilihan terakhir, tapi sebagai alat yang bisa diaktifkan kapan saja.















