Sumbawanews.com,- Pada 17 Juni 1940, laut lepas Saint-Nazaire, Prancis, menjadi saksi salah satu kisah paling kelam dalam sejarah maritim Inggris. RMS Lancastria, kapal penumpang yang dioperasikan oleh Royal Mail Steam Packet Company, tenggelam dalam waktu kurang dari 20 menit setelah diserang pesawat tempur Jerman Nazi. Kapal yang seharusnya mengevakuasi tentara dan warga sipil Sekutu pasca-operasi Dunkirk berubah menjadi peti mati bergerak—menghanyutkan sekitar 4.000 nyawa dalam keheningan laut Atlantik.
Lebih dari 2.500 orang berhasil diselamatkan, tetapi ribuan lainnya terjebak di dalam lambung kapal yang terus tenggelam, atau terperangkap di antara tumpahan minyak dan serangan udara berulang. Para penyintas menggambarkan pemandangan mengerikan: tubuh-tubuh terapung di atas permukaan laut yang berwarna hitam, jeritan yang tenggelam oleh ledakan, dan kegagalan sistem penyelamatan yang tak memadai. Salah satu yang bertahan adalah Walter Hirst, seorang anggota Royal Engineers asal Skotlandia, yang mengapung selama empat jam sebelum akhirnya diselamatkan oleh kapal penolong.
Namun, yang paling mengejutkan bukanlah jumlah korban—yang bahkan melebihi gabungan tragedi Titanic dan Lusitania—melainkan upaya sistematis pemerintah Inggris untuk menyembunyikan insiden ini. Perdana Menteri Winston Churchill, yang sedang berjuang mempertahankan moral rakyat di tengah kekalahan demi kekalahan di Eropa, memerintahkan sensor total terhadap laporan media. Berita tentang Lancastria dilarang dipublikasikan, dan dokumen-dokumen resmi dikunci selama puluhan tahun. Tujuannya jelas: jangan sampai kehancuran ini memicu kepanikan atau meruntuhkan semangat perang.
Akibatnya, tragedi ini hampir terlupakan. Keluarga korban tak mendapat pengakuan resmi, para penyintas hidup dengan luka batin yang tak pernah diakui publik, dan sejarah memilih untuk diam. Baru pada dekade-dekade berikutnya, upaya gigih dari para aktivis, veteran, dan sejarawan mendorong pemerintah membuka arsip rahasia dan mengakui skala bencana ini. Pada 2009, lokasi tenggelamnya Lancastria ditetapkan sebagai situs peringatan perang, dan pada 2021, pemerintah Inggris secara resmi menyatakan tragedi ini sebagai “bencana maritim terbesar dalam sejarah nasional.”
Hari ini, 86 tahun setelah kapal itu tenggelam, nama Lancastria masih jarang disebut di buku pelajaran sejarah—tapi di antara para sejarawan dan keluarga korban, ia tetap menjadi simbol kesakitan yang sengaja dilupakan. Bukan karena tak berarti, melainkan karena terlalu berarti untuk diungkap di saat negara sedang berperang. Dan mungkin, itulah yang paling menyakitkan: bahwa dalam kehancuran terbesar, keheningan justru menjadi cara terakhir untuk bertahan.















