Home Berita Olah Raga Timnas Jepang Tersingkir di 32 Besar Piala Dunia 2026, Moriyasu Hadapi Tekanan...

Timnas Jepang Tersingkir di 32 Besar Piala Dunia 2026, Moriyasu Hadapi Tekanan Besar

Sumbawanews.com,- Hajime Moriyasu menghadapi tekanan luar biasa setelah Timnas Jepang kalah 1-2 dari Brasil dalam laga 32 besar Piala Dunia 2026 di NRG Stadium, Houston, Amerika Serikat, pada Selasa (30/6/2026) dini hari WIB. Meski sempat unggul lewat gol tendangan jarak jauh Kaishu Sano pada menit 29, Samurai Biru harus menelan kekalahan dramatis akibat dua gol balasan Brasil—Casemiro di menit 56 dan Gabriel Martinelli pada menit 90+5.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Jepang yang pada Piala Dunia 2022 mampu menembus babak 16 besar sebelum dikalahkan Kroasia lewat adu penalti. Kini, kegagalan bertahan di fase gugur pertama memicu gelombang kritik tajam di tanah air. Akun resmi sepak bola Jepang @JapaneseFbl mempertanyakan masa depan Moriyasu: “Dua Piala Dunia, lebih dari 100 pertandingan sebagai pelatih kepala. Tapi selalu tersingkir di ronde pertama. Haruskah JFA mencari pelatih baru?”

Moriyasu, yang menangani timnas sejak 1 Agustus 2018, telah memimpin Jepang dalam 108 pertandingan dengan catatan 74 menang, 15 imbang, dan 19 kalah. Prestasinya pernah diapresiasi saat membawa Jepang lolos ke putaran final empat Piala Dunia berturut-turut dan meraih gelar Piala Asia 2019. Namun, pola permainan yang terkesan konservatif dan ketidakmampuan menghadapi tim-tim besar di momen krusial kini menjadi sorotan utama.

Pasca pertandingan, Moriyasu terlihat membungkuk dalam-dalam di hadapan para pemainnya di lapangan, sebuah gestur yang dianggap banyak pengamat sebagai simbol tanggung jawab pribadi atas kegagalan ini. Di media sosial, gambar itu menjadi viral, menyusul aksi kontroversial Matheus Cunha yang menunjukkan lima jari sebagai ejekan terhadap pemain Jepang yang dianggap meremehkan Brasil.

Belum ada keputusan resmi dari Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengenai masa depan Moriyasu. Namun, dengan kekalahan ini, tekanan untuk mengganti pelatih semakin kuat—terutama menyusul pengunduran diri Hong Myung-bo dari jabatan pelatih Korea Selatan setelah gagal lolos ke 32 besar dalam turnamen yang sama. Jika JFA memilih untuk mengganti pelatih, Moriyasu akan menutup epik delapan tahun kepemimpinannya dengan catatan prestasi yang mengagumkan, tapi juga dengan rasa kekecewaan yang tak terhindarkan.

Previous articleJerman Gagal Bersihkan Gawang Sejak Juara 2014
Next articleJerman Tersingkir Setelah Gol Tah Dibatalkan VAR