Sumbawanews.com,- Teheran — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan pernyataan tegas bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah terwujud selama negara Israel masih berdiri. Pernyataan itu disampaikan Kamis (28/5/2026), menyusul serangan mematikan militer Israel terhadap sejumlah pemimpin Hamas di Gaza, yang memicu eskalasi kekerasan di kawasan.
“Selama rezim pembunuh anak-anak ini masih ada di muka bumi, Asia Barat tidak akan mengenal ketenangan,” tegas IRGC dalam pernyataan resminya, sebagaimana dilaporkan AzerNews. Pernyataan ini bukan sekadar retorika—ia merupakan refleksi dari strategi militer dan ideologis yang telah mengakar selama lebih dari empat dekade di Republik Islam Iran.
IRGC menolak mentah-mentah inisiatif perdamaian yang digagas oleh pemerintah Amerika Serikat, termasuk rencana yang dikemukakan mantan Presiden Donald Trump. Pihaknya menyebutnya sebagai “perjudian berdarah” yang hanya akan memperdalam penderitaan rakyat Palestina dan memperkuat dominasi militer Israel di wilayah itu.
Sementara itu, ketegangan regional terus memanas. Di Lebanon, Israel meningkatkan serangan udara dan memperluas operasi darat ke wilayah selatan, dengan mengeluarkan perintah evakuasi paksa terhadap warga sipil di kota Tyre dan sekitarnya. Ribuan warga dipaksa mengungsi ke utara, menuju Sungai Zahrani, dalam kondisi yang kian memprihatinkan.
Kekhawatiran semakin mendalam setelah serangan drone Hizbullah berhasil menewaskan Sersan Rotem Yanai, 20, dan melukai dua prajurit Israel lainnya di perbatasan. Insiden ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pertahanan Israel, meski canggih, mulai menunjukkan kerapuhan di hadapan taktik gerilya modern yang mengandalkan drone dan senjata presisi.
Ketidakmampuan Israel mengatasi ancaman drone ini memicu permintaan mendesak ke Amerika Serikat untuk bantuan teknologi pertahanan. Komandan Lapangan Mayor Jenderal Nadav Lotan bahkan direncanakan akan bertolak ke Washington dalam beberapa hari mendatang untuk membahas peluang kerja sama militer.
Sementara itu, Iran merespons dengan tindakan nyata. IRGC meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait, sebagai balasan atas apa yang disebutnya sebagai “pelanggaran terhadap gencatan senjata” oleh AS di Selat Hormuz. Pihaknya memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih dahsyat jika Washington terus mendukung agresi Israel.
Dalam konteks ini, pernyataan IRGC bukan sekadar ancaman—ia adalah manifesto perlawanan. Bagi mereka, keberadaan Israel bukan hanya masalah politik, tapi sebuah kejahatan sejarah yang harus dihapuskan agar keadilan bisa kembali menghuni tanah suci. Dan dalam pandangan mereka, tidak ada jalan tengah. Tidak ada negosiasi. Tidak ada damai—kecuali setelah Israel lenyap dari peta.















