Sumbawanews.com,- Gaza – Tiga warga Palestina tewas dalam serangan drone Israel di Deir al-Balah, Jalur Gaza, pada Senin pagi, 29 Juni 2026. Di antara korban jiwa adalah Malik Wael Abu Shaweesh, bocah berusia delapan tahun, serta dua orang dewasa: Ali Fayez Isbaitan dan Hassan Salman al-Hanajra. Serangan itu terjadi di dekat jembatan Wadi al-Salqa, Jalan al-Baraka, dan menewaskan sekaligus melukai sejumlah warga sipil lainnya.
Korban-korban ini menjadi bagian dari gelombang serangan berkelanjutan yang dilancarkan Israel sejak akhir pekan lalu. Pasukan pendudukan terus menargetkan kamp pengungsian, permukiman padat, dan titik-titik strategis di seluruh Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata yang mulai berlaku pada 11 Oktober 2025 secara resmi masih berlaku. Namun, pelanggaran terhadap kesepakatan itu terus terjadi melalui serangan udara, penembakan artileri, dan blokade yang tak kunjung dicabut.
Di wilayah selatan Gaza, seorang warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan yang menghantam tenda pengungsian di kawasan Al-Mawasi, barat Khan Yunis. Di sebelah timur kota itu, Elin Islam Al-Farra, remaja berusia 13 tahun, meninggal dunia akibat luka tembak akibat serpihan peluru artileri yang menghantam dekat bundaran Bani Suheila. Jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis.
Serangan lain terjadi di dekat Tiberias Chalet, barat laut Khan Yunis, yang menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya. Di kawasan Sheikh Nasser, drone Israel menjatuhkan bom sambil menembaki rumah-rumah warga di sebelah timur kota. Sementara itu, tim pertahanan sipil Palestina terus berupaya mengevakuasi 45 jenazah yang masih tertimbun di bawah reruntuhan rumah keluarga Ghaboun di Jalan Al Talatini, Kota Gaza, akibat serangan sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025, total 1.048 warga Palestina tewas dan lebih dari 3.372 lainnya terluka. Angka ini hanya bagian dari krisis yang lebih besar: sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 73.054 orang tewas dan 173.480 lainnya mengalami luka-luka akibat agresi militer Israel di wilayah tersebut.
Dengan serangan yang terus berlanjut, warga Gaza hidup dalam ketakutan yang tak kunjung reda—di tengah kehancuran infrastruktur, kelangkaan pangan, dan fasilitas medis yang hampir kolaps. Anak-anak, perempuan, dan lansia menjadi korban paling rentan dalam konflik yang tak kunjung usai.















