Sumbawanews.com,- Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, salah satu sekutu paling vokal Donald Trump, meninggal dunia pada usia 71 tahun setelah jatuh sakit mendadak. Kantornya mengumumkan kabar duka itu pada Minggu (12/7/2026) dini hari waktu setempat, menyebut Graham berpulang pada Sabtu malam, 11 Juli, setelah petugas medis merespons panggilan darurat terkait dugaan henti jantung di kediamannya di Capitol Hill. Ia baru saja memenangkan pemilu primer Partai Republik pada Juni lalu untuk mencalonkan diri kembali dalam pemilu November mendatang, tanpa indikasi sebelumnya mengalami gangguan kesehatan.
Graham, yang mewakili Carolina Selatan sejak 2003, dikenal sebagai figur keras berhaluan konservatif dan mantan kolonel Cadangan Angkatan Udara AS. Hubungannya dengan Trump sempat retak saat ia mengkritik habis kandidat presiden 2016, menyebut Trump sebagai “brengsek” dan memperingatkan bahwa pencalonannya akan membawa kekalahan telak. Namun, setelah Trump menguasai partai, Graham bertransformasi menjadi pendukung setia, bahkan menjadi penjembatan antara Trump dan Kongres, terutama saat membela hakim Brett Kavanaugh pada 2018. Meski sempat menarik dukungan pasca-serangan Gedung Capitol 6 Januari 2021, ia kembali mendukung Trump pada pemilu 2024 dan kerap terlihat bersama sang mantan presiden di lapangan golf.
Kematian Graham menandai berakhirnya era “tiga sekawan” senator bipartisan, bersama Joe Lieberman dan John McCain—dua sosok yang lebih dulu meninggal pada 2024 dan 2018. Sejumlah tokoh internasional, termasuk Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, menyampaikan belasungkawa, memuji keberanian dan komitmen Graham terhadap Israel. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengenang kontribusinya setelah bertemu dengannya hanya beberapa hari sebelum kematiannya di Kyiv. Keluarga Graham meminta privasi di masa duka, dan penyebab pasti kematian hingga kini belum diumumkan.















