Sumbawanews.com,- Krisis migrasi di Ceuta memicu ketegangan antara Italia dan Spanyol, setelah puluhan ribu migran dari Maroko berhasil masuk ke kantong wilayah Spanyol di Afrika Utara. Menanggapi tekanan migrasi, Italia mengumumkan pemeriksaan ulang terhadap warga non-Uni Eropa yang tiba dari Spanyol melalui bandara dan pelabuhan selama satu bulan, sebuah langkah yang dianggap Spanyol sebagai pelanggaran terhadap prinsip bebas perjalanan dalam kawasan Schengen. Pertemuan darurat para menteri dalam negeri Uni Eropa pun dijadwalkan pada 4 Agustus 2026 untuk membahas respons kolektif, meski arus migran di Ceuta sudah mereda. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mempertahankan kebijakan itu sebagai upaya menjaga keamanan nasional, dengan penekanan bahwa pemeriksaan tidak berlaku bagi warga Spanyol maupun Uni Eropa lainnya. Namun, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengecam langkah Roma sebagai tindakan egois yang merusak solidaritas Eropa, mengingat Spanyol pernah menerima migran yang tiba lewat Belarusia pada 2021 dan membantu Italia saat gelombang besar mendarat di Lampedusa pada 2023. Madrid pun mengirim surat resmi kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa, menegaskan bahwa Uni Eropa tidak bisa membiarkan keputusan yang memecah belah dan melanggar hukum bersama.
Home Berita Internasional 60 Ribu Migran Masuki Ceuta, Italia Perketat Perbatasan, Spanyol Merasa Dikhianati















