Home Berita Nasional **Salat Id di Lapangan Gereja, Toleransi yang Berakar**

**Salat Id di Lapangan Gereja, Toleransi yang Berakar**

Sumbawanews.com,- Pagi itu, matahari membelah ufuk timur Kota Depok, menyinari ribuan jamaah yang berbaris rapi di lapangan terbuka, tanpa tembok masjid, tanpa kubah, tapi dengan keheningan yang sama sekali tak tergantikan. Di sisi lapangan, menara Gereja Bethel Indonesia berdiri tenang, seolah menjadi saksi bisu sebuah tradisi yang telah berjalan selama tiga dekade: Salat Idul Adha digelar di lahan milik Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), persis di samping gedung gereja.

Bukan kebetulan. Bukan pula sekadar kompromi. Ini adalah cerita toleransi yang tumbuh dari akar kepercayaan, bukan dari keharusan politik.

Sejak 1996, komunitas Muslim di Pancoran Mas—dengan dukungan aktif Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara—memilih tempat ini sebagai lokasi utama pelaksanaan salat Id. Alasannya sederhana: ruang luas, akses mudah, dan yang paling penting, kerelaan pihak gereja untuk memberikan ruang. Bahkan, saat jamaah memadati lapangan, gereja pun membuka area parkirnya untuk kendaraan para jamaah. Tidak ada syarat. Tidak ada catatan. Hanya senyuman dan kepercayaan.

Ribuan umat Muslim hadir, dari anak-anak kecil yang memegang mukena kecil hingga lansia yang berjalan perlahan dengan tongkat. Mereka berdiri berjajar, mengikuti gerakan salat yang khidmat, sementara di kejauhan, jemaat gereja melintas dengan tenang, seolah tak ada yang berbeda. “Kami tidak merasa sebagai minoritas di sini,” ujar Lutfi, warga yang sudah dua tahun mengikuti salat Id di lokasi ini. “Gereja membuka pintu. Itu lebih dari simbol. Itu adalah bentuk persaudaraan yang nyata.”

Keteguhan toleransi ini bukanlah hal baru. Bahkan saat kerusuhan antarumat beragama membara di Ambon pada 1999, Depok tetap tenang. Warga non-Muslim setempat turut berjaga di sekitar lapangan, memastikan ibadah jamaah berjalan aman. “Mereka tidak hanya diam. Mereka ikut menjaga,” kenang Diki Wahyu, salah satu panitia penyelenggara. “Itu bukan karena takut. Itu karena mereka tahu: ini rumah kita bersama.”

Lapangan YLCC bukanlah tempat yang dirancang untuk ibadah Muslim. Tapi di sana, setiap tahun, takbir menggema di bawah langit yang sama tempat lagu-lagu pujian gereja pernah berkumandang. Tidak ada konflik simbol. Tidak ada keharusan perubahan arah. Hanya kehadiran yang saling menghormati—tanpa perlu dijelaskan, tanpa perlu dipertanyakan.

Di tengah era yang sering memperdebatkan perbedaan, Depok menunjukkan sesuatu yang jauh lebih kuat: kebersamaan yang dibangun dari tindakan, bukan dari pidato. Di sini, gereja bukan hanya meminjamkan lahan. Ia meminjamkan hati.

Lutfi berharap, kisah ini bukan sekadar kebanggaan lokal. “Semoga ini jadi barometer. Bahwa toleransi bukan soal berapa banyak yang kita katakan, tapi seberapa banyak yang kita lakukan—tanpa menunggu diundang, tanpa menunggu disetujui. Cukup dengan membuka pintu.”

Dan di pagi yang cerah itu, pintu itu terbuka lebar. Untuk semua.

Previous articleWabup H. Ansori Dorong Petani dan Peternak Sumbawa Jadi Penopang PSN
Next articleBupati Lepas Pawai Keliling Idul Adha 1447 H
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik