Sumbawanews.com,- Moskow mengecam Prancis, Jerman, dan Inggris atas apa yang disebutnya sebagai sikap hipokrit dalam konflik Ukraina. Dalam pertemuan tertutup di ibu kota Rusia, Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Galuzin menegaskan bahwa ketiga negara Eropa itu secara aktif memperpanjang perang dengan terus memasok senjata ke Kyiv, meski secara publik menyatakan mendukung upaya perdamaian.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut kebijakan Barat itu sebagai “destruktif” dan bertujuan mempertahankan rezim Ukraina di medan perang. Para duta besar ketiga negara itu dipanggil ke Moskow untuk menerima penjelasan resmi bahwa dukungan militer mereka—baik dalam bentuk senjata, intelijen, maupun pelatihan—justru menghambat kemungkinan negosiasi damai yang sudah berlangsung lebih dari empat tahun sejak invasi Rusia pada 2022.
Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London. Dalam pertemuan itu, para pemimpin Eropa kembali menyerukan agar Rusia duduk bersama Ukraina untuk perundingan langsung. Namun, Moskow menolak mentah-mentah ajakan itu.
Presiden Vladimir Putin secara terbuka menolak pertemuan tatap muka dengan Zelenskyy, menyatakan bahwa Kyiv tidak memiliki “kredibilitas moral” untuk memulai negosiasi sambil terus menerima bantuan senjata dari Barat. “Mereka berbicara tentang perdamaian, tapi tangan mereka penuh darah,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, menanggapi klaim dari Duta Besar Prancis Nicolas de Riviere yang menyebut pertemuan di Moskow “produktif”.
Zakharova menekankan bahwa retorika damai dari Eropa hanyalah kedok. “Anda tidak bisa membangun perdamaian di atas senjata yang dikirim melalui kereta api dan pesawat tempur,” tegasnya. Sementara itu, data dari lembaga riset internasional menunjukkan bahwa sejak 2022, ketiga negara Eropa itu telah menyumbang lebih dari 40 miliar dolar AS dalam bentuk bantuan militer kepada Ukraina—termasuk rudal jarak jauh, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara canggih.
Diplomasi Rusia kini bergerak ke arah yang lebih tajam: mengisolasi Eropa secara moral di mata dunia, sekaligus memperkuat narasi bahwa perang ini bukan konflik antara Rusia dan Ukraina, melainkan antara Moskow dan koalisi Barat yang memanfaatkan Kyiv sebagai alat perang.
Sementara itu, di kawasan Eropa Timur, ketegangan terus memanas. Ukraina melaporkan serangan rudal Rusia di wilayah timur, sementara Rusia menuduh pasukan Kyiv melakukan serangan balasan menggunakan senjata Barat ke wilayah perbatasan. Kedua belah pihak saling menyalahkan, dan peluang dialog semakin kabur.
Dengan sikap tegas Moskow dan komitmen Eropa yang tak goyah terhadap dukungan militer, dunia kini menyaksikan sebuah paradoks: para pemimpin yang berpidato tentang perdamaian justru menjadi tulang punggung perang yang tak kunjung usai.

















