Sumbawanews.com,- Korea Selatan resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah gagal melaju ke babak 32 besar, mengakhiri harapan bangsa ini untuk melanjutkan tradisi keberhasilan di ajang sepak bola terbesar dunia. Presiden Lee Jae-myung menanggapi kegagalan tersebut dengan tindakan tegas: ia memerintahkan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk melakukan investigasi menyeluruh atas kinerja tim nasional.
Dalam grup A, Timnas Korea Selatan—yang dikenal sebagai Taegeuk Warriors—hanya mampu meraih satu kemenangan dari tiga laga, yakni kemenangan tipis 2-1 atas Republik Ceko. Dua kekalahan beruntun, pertama dari Meksiko dan kemudian 0-1 dari Afrika Selatan, membuat mereka finis di posisi ketiga dengan tiga poin. Dengan peringkat ke-10 dari 12 tim peringkat tiga terbaik, Korea Selatan gagal menembus delapan slot tersisa yang memenuhi syarat lolos. Padahal, mereka merupakan tim dengan peringkat FIFA tertinggi kedua di grup tersebut, hanya kalah dari Meksiko.
Kegagalan ini memicu gelombang kekecewaan di dalam negeri. Pelatih Hong Myung-bo, yang memimpin tim sejak 2023, telah mengundurkan diri sehari setelah kekalahan melawan Afrika Selatan. Namun, Presiden Lee menilai pengunduran diri itu tidak cukup. Ia mengecam Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) karena dinilai abai terhadap kompetensi dan kesiapan teknis dalam proses rekrutmen pelatih.
“Saya tidak hanya terkejut dengan hasil yang tak terduga ini, saya benar-benar bingung,” kata Lee dalam pernyataan resmi di media sosial. “Karena uang pajak rakyat dan sumber daya negara yang besar telah diinvestasikan demi partisipasi di Piala Dunia, saya meminta agar kementerian terkait menyelidiki secara mendalam penyebab kegagalan ini, menganalisis kelemahan sistemik, dan merumuskan langkah reformasi yang komprehensif.”
Lee menegaskan bahwa pemerintah akan mendorong restrukturisasi manajemen olahraga nasional untuk memastikan kegagalan semacam ini tidak terulang. Ia menekankan bahwa kegagalan ini bukan sekadar masalah teknis di lapangan, tetapi mencerminkan kerapuhan struktur kelembagaan sepak bola di tingkat tertinggi.
Korea Selatan, yang sebelumnya pernah mencapai semifinal pada Piala Dunia 2002 sebagai tuan rumah bersama Jepang, kini menghadapi masa kritis dalam sejarah sepak bolanya. Kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi yang terburuk sejak 1998, dan memicu debat nasional tentang arah masa depan sepak bola negara tersebut. Banyak pihak menuntut transparansi, akuntabilitas, dan perubahan mendasar dalam sistem pembinaan pemain dan penunjukan pelatih — bukan hanya sebagai respons terhadap kekalahan, tetapi sebagai keharusan untuk membangkitkan kembali kejayaan masa lalu.















