Home Berita Olah Raga Politik Menyusup ke Lapangan: Lagu Kebangsaan Iran Dihina di Piala Dunia 2026

Politik Menyusup ke Lapangan: Lagu Kebangsaan Iran Dihina di Piala Dunia 2026

Sumbawanews.com,- Ketegangan geopolitik merembes ke lapangan hijau saat Timnas Iran menghadapi Belgia di Stadion SoFi, Los Angeles, Senin dini hari (22/6/2026). Saat lagu kebangsaan Iran, “Sorud-e Jomhouri-e Eslami-e Iran,” dikumandangkan, suara cemoohan dan teriakan merusak suasana khidmat yang seharusnya mengiringi tim tamu. Penonton, diduga sebagian besar warga AS, sengaja meneriakkan kata-kata provokatif dan menepuk-nepuk mulut saat lagu berlangsung—sebuah aksi yang jelas melanggar etika olahraga dan hukum FIFA.

Peristiwa ini bukan kebetulan. Sehari sebelumnya, Iran baru tiba di Los Angeles setelah mengalami kekacauan logistik yang diduga disengaja: jadwal penerbangan mereka terlambat berhari-hari, membuat skuad kehilangan waktu istirahat dan latihan. Pelatih Amir Ghalenoei mengungkapkan kekecewaan mendalam, menyatakan bahwa ia tidak menerima satu pun sapaan atau dukungan dari 47 pelatih negara peserta lainnya. “Kami datang untuk bermain bola, bukan untuk menjadi simbol konflik politik,” ujarnya dengan nada tajam, seperti dilansir Yahoo Sports.

Ghalenoei juga menyoroti sikap diskriminatif dari penyelenggara. Tim Iran, yang seharusnya mendapat perlakuan setara sebagai peserta resmi Piala Dunia, justru dianggap sebagai “beban” dalam urusan akomodasi dan transportasi. Sementara tim-tim lain menikmati jadwal ideal dan fasilitas premium, Iran harus berjuang untuk mendapatkan akses dasar—termasuk ruang latihan yang layak.

Di luar lapangan, situasi semakin memanas. Media sosial dipenuhi narasi yang mempolitisasi keberadaan Iran di turnamen ini, dengan sejumlah akun AS mengaitkan tim Melli dengan isu-isu sensitif seperti hak asasi manusia dan kebijakan luar negeri Teheran. Padahal, para pemain Iran—sebagian besar berusia muda dan lahir setelah revolusi 1979—hanya ingin bermain, bukan menjadi corong konflik.

Hasil pertandingan sendiri berakhir imbang 1-1, dengan gol Iran dicetak oleh Mehdi Taremi di menit ke-34, dan Belgia menyamakan skor lewat gol bunuh diri oleh defender Iran di menit ke-78. Namun, yang teringat lama bukanlah gol-gol itu, melainkan suara-suara yang menghina lagu kebangsaan sebuah bangsa yang sedang berjuang untuk diakui sebagai bagian dari komunitas global.

FIFA dikabarkan sedang menyelidiki insiden ini, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi atau sanksi yang dijatuhkan. Sementara itu, para pemain Iran berjalan keluar lapangan dengan kepala tegak, tangan di dada, dan mata tertunduk—tak menoleh ke arah tribun yang baru saja menghina mereka.

Dalam dunia sepak bola, seharusnya lapangan adalah satu-satunya medan pertarungan. Tapi di Piala Dunia 2026, politik telah memutuskan untuk ikut bermain—dan kali ini, ia memilih untuk menyakiti.

Previous articleSpesies Hiu Berjalan Baru Ditemukan di Papua Nugini
Next articleAdam Deni Pamer Senjata, Rusak Ruko karena Dendam Pribadi
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik