Sumbawanews.com,- Washington, DC – Pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bukan sekadar peristiwa domestik—ia langsung menjadi sorotan internasional, terutama dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam wawancara di Ruang Oval, Trump tak menyembunyikan kekecewaannya terhadap kebijakan Starmer, menilai bahwa dua isu utama yang gagal dikelola pemimpin Partai Buruh itu adalah energi dan imigrasi.
“Saya rasa dia pria yang menyenangkan,” ujar Trump, mengawali kritiknya dengan nada yang tampak santai. “Tapi dia telah merugikan dirinya sendiri—sangat buruk.”
Trump menyoroti kebijakan energi Inggris yang menurutnya mengabaikan potensi alamiah negara itu. Ia menekankan bahwa Inggris memiliki cadangan minyak dan gas besar di Laut Utara, namun justru memilih mengandalkan impor energi dari Norwegia dan memperluas pembangkit energi angin. “Anda tahu dari mana mereka beli minyak? Norwegia. Tapi mereka punya sumber daya sendiri—dan memilih tidak mengeksploitasinya karena alasan lingkungan. Itu keputusan politik yang salah,” tegasnya.
Selain energi, Trump juga menyalahkan Starmer atas pendekatan imigrasi yang dianggapnya terlalu lunak. Ia menyebut kebijakan itu memicu tekanan sosial dan meningkatkan kejahatan, meski tidak memberikan data spesifik. “Energi dan imigrasi—dua masalah besar. Itu yang membuatnya jatuh,” kata Trump.
Ketegangan antara keduanya juga memperdalam perbedaan strategis dalam kebijakan luar negeri. Trump mengungkap kekecewaannya atas lambatnya persetujuan Inggris terhadap penggunaan Pangkalan Udara RAF Akrotiri di Siprus untuk operasi militer AS terhadap target di Iran. “Dia bilang kami tidak bisa pakai pulau itu untuk mendarat. Itu pertama kalinya dalam sejarah hubungan kami,” ujar Trump, menambahkan bahwa izin akhirnya diberikan, tetapi “terlambat dan tidak kooperatif.”
Meski menyebut Starmer sebagai “semacam teman,” Trump menilai keputusan mundur sang PM sebagai konsekuensi logis dari kegagalan dalam menangani isu-isu strategis yang mendesak rakyat Inggris. “Saya mendoakan yang terbaik untuknya. Tapi dia tidak memahami apa yang benar-benar penting bagi rakyatnya.”
Starmer, yang mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6/2026), tetap akan menjabat sebagai perdana menteri hingga proses transisi selesai. Keputusannya diambil setelah tekanan internal yang kian membesar, terutama setelah hasil buruk Partai Buruh dalam pemilihan lokal dan regional yang melemahkan basis kekuasaannya.
Nama Andy Burnham, mantan Wali Kota Greater Manchester dan kini anggota parlemen, muncul sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer. Jika terpilih, Burnham akan menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam satu dekade terakhir—menggambarkan ketidakstabilan politik yang terus menghantui pemerintahan Inggris pasca-Brexit.
Sementara itu, pernyataan Trump memperdalam narasi bahwa hubungan AS-Inggris, meski tetap dianggap sebagai “spesial,” kini semakin dipengaruhi oleh perbedaan ideologis dan prioritas kebijakan—bukan lagi sekadar ikatan sejarah.















