Home Berita Internasional Perang Tanpa Peluru: AI di Ponsel Anda Menggerogoti Demokrasi

Perang Tanpa Peluru: AI di Ponsel Anda Menggerogoti Demokrasi

Sumbawanews.com,- Anggota Parlemen Eropa Michał Kobosko memperingatkan: ancaman terbesar bagi stabilitas masyarakat modern bukan lagi rudal atau drone, melainkan kecerdasan buatan yang bersembunyi di layar ponsel setiap warga. Dalam konferensi PIKE 2026 di Sopot, Polandia, ia menegaskan bahwa perang masa kini berlangsung tanpa suara tembakan—hanya lewat algoritma yang memecah belah opini, memperdalam polarisasi, dan meruntuhkan kepercayaan terhadap realitas bersama.

Rusia, menurut Kobosko, telah menjadi pelaku paling sistematis dalam memanfaatkan teknologi ini. Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, serangan siber dan disinformasi berbasis AI telah meningkat tajam di seluruh Uni Eropa, dengan Polandia menjadi target paling sering. Bukan sekadar peretasan sistem pemerintah atau gangguan layanan publik, tetapi operasi psikologis yang terukur: membanjiri ruang digital dengan berita palsu, deepfake, dan narasi provokatif yang dirancang untuk memicu kepanikan, kebencian, dan ketidakpercayaan terhadap institusi demokrasi.

Yang lebih mengkhawatirkan, menurut Kobosko, bukan hanya kecepatan serangan, melainkan kelemahan manusia dalam menanggapinya. “AI tidak memahami konteks, nuansa, atau kebenaran moral,” katanya. “Tapi jutaan orang percaya padanya sebagai sumber kebenaran mutlak.” Di Harvard, ia mendengar prediksi mengejutkan dari para ilmuwan: dalam dunia yang bergerak secepat ini, “jangka panjang” kini berarti hanya tiga hingga empat tahun. Regulasi yang sedang dirancang para pembuat kebijakan kalah cepat dari inovasi teknologi yang terus berevolusi.

Dampaknya sudah terasa di lapangan. Pekerjaan administratif, analisis data sederhana, bahkan tugas komunikasi publik mulai digantikan algoritma—tanpa persiapan sosial yang memadai. Sementara itu, media sosial menjadi medan perang baru, di mana emosi lebih mudah dimanipulasi daripada fakta. Di Eropa, laporan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus pemilu yang terganggu oleh kampanye AI yang tidak transparan, serta peningkatan radikalisasi daring di kalangan remaja.

Kobosko menekankan, ini bukan soal melarang teknologi. “AI adalah alat. Seperti api, ia bisa memanaskan atau membakar.” Yang dibutuhkan, katanya, adalah literasi digital yang mendalam, regulasi yang responsif, dan—yang paling krusial—kesadaran kolektif bahwa kebenaran bukan lagi sesuatu yang diberikan oleh mesin, tetapi harus dicari, diuji, dan dipertahankan oleh manusia.

Di tengah gelombang informasi yang tak terbendung, satu pertanyaan kini menggema: jika kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang dibuat, maka siapa yang sebenarnya memerintah?

Previous articleJelang Pemakaman Ryamizard, TNI Lakukan Gladi Bersih di TMP Kalibata
Next articlePangkalan Militer Asing Bertentangan dengan Jiwa Kemerdekaan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik