Sumbawanews.com,- Efendi, 59, pedagang garam keliling di Pasuruan, selamat dari risiko amputasi kaki berkat perlindungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dua tahun lalu, ia baru menyadari dirinya menderita diabetes melitus setelah pemeriksaan kesehatan gratis di desanya menunjukkan kadar gula darah mencapai 300 mg/dL. Saat itu, ia mengabaikan hasil itu—karena merasa masih kuat beraktivitas. Tapi seiring waktu, infeksi di kakinya memburuk, membengkak, dan mengancam nyawanya.
“Saya takut sekali, katanya bisa sampai dipotong,” ujar Efendi, duduk di ruang tunggu RSUD dr. R. Soedarsono, Senin, 25 Mei 2026. Keluarganya panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Dokter pun mendiagnosis komplikasi diabetes yang memerlukan operasi segera. Bagi seorang pedagang garam keliling yang penghasilannya tak menentu—kadang cukup untuk makan, kadang hanya cukup untuk bayar listrik—biaya operasi adalah mimpi buruk.
Tapi Efendi bukan orang biasa. Ia terdaftar sebagai peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), di mana iurannya ditanggung pemerintah. Tanpa beban finansial, ia menjalani operasi tanpa ragu. “Kalau tidak ada BPJS, saya tidak tahu harus cari uang dari mana. Jualan garam tidak bisa bayar operasi,” katanya sambil tersenyum.
Selama perawatan, ia tak hanya mendapat tindakan medis—tapi juga kehangatan. Dokter dan perawat menjelaskan setiap prosedur dengan sabar, memastikan ia paham dan tidak takut. “Saya dengar banyak cerita buruk soal JKN, tapi pengalaman saya justru sebaliknya. Saya dilayani seperti manusia, bukan seperti angka,” ujarnya.
Kini, setiap bulan, Efendi kembali ke rumah sakit untuk kontrol gula darah. Ia tetap berkeliling Pasuruan dengan gerobak garamnya, tapi kini dengan langkah lebih ringan—bukan hanya karena kaki yang sembuh, tapi karena hati yang tenang. “Saya tidak hanya ingin sembuh. Saya ingin hidup tanpa takut biaya,” ucapnya.
Bagi Efendi, JKN bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah pelindung bagi jutaan orang seperti dirinya—yang bekerja keras setiap hari, tapi tak punya jaminan apa pun selain keteguhan hati. Ia berharap, semakin banyak yang tahu: di balik setiap gerobak garam, ada nyawa yang bisa diselamatkan—bukan karena keberuntungan, tapi karena kebijakan yang peduli.

















