Sumbawanews.com,- Kesedihan dan kekaguman memenuhi Louisville, Kentucky, saat dunia memperingati 10 tahun kematian Muhammad Ali, legenda tinju sekaligus simbol keberanian dan kemanusiaan. Dalam peringatan bertajuk “Hari Kasih Sayang”, istrinya, Lonnie Ali, mengajak masyarakat global untuk merayakan jejak hidup sang juara bukan hanya melalui prestasi di atas ring, tetapi melalui tindakan nyata kepedulian terhadap sesama.
“Dia tidak hanya menjadi juara dunia — dia menjadi suara bagi yang tak didengar,” ujar Lonnie di Muhammad Ali Center, pusat memori yang ia pimpin seumur hidup. “Baginya, melayani orang lain adalah harga yang harus dibayar untuk menempati ruang di bumi ini.”
Ali, yang meninggal pada 3 Juni 2016 akibat komplikasi Parkinson, bukan sekadar petinju hebat dengan tiga gelar berat dunia dan medali emas Olimpiade 1960. Ia menjadi ikon perlawanan damai: menolak wajib militer di tengah perang Vietnam, berdiri tegak melawan rasisme, dan memperjuangkan hak sipil di tengah gelombang ketidakadilan. Kekuatannya bukan hanya di tinju, tapi di kata-kata, sikap, dan pilihan moral yang tak pernah kompromi.
Lonnie menekankan bahwa pesan Ali kini lebih relevan dari sebelumnya. “Kita semakin terpecah, menarik diri ke dalam kelompok yang sama, tak lagi berusaha memahami yang berbeda,” katanya. Ia menyerukan para pemimpin politik untuk memimpin dengan empati, khususnya dalam melindungi hak suara — sebuah nilai yang pernah ia perjuangkan bersama Martin Luther King Jr. “Kita tidak bisa punya representasi yang adil jika hak memilih dicabut dari kelompok tertentu.”
Peringatan ini dimeriahkan dengan peluncuran perangko pos AS bergambar Ali, yang diresmikan pada Januari 2026 di Louisville — simbol resmi bahwa pesan sang legenda telah menembus batas waktu dan kelas sosial. “Dari raja hingga warga biasa yang tak pernah bertemu dengannya, mereka merasa mengenal hatinya,” ujar Lonnie, sambil menunjuk lukisan tahun 1975 yang masih menghiasi dinding pusat memori.
Di tengah arus polarisasi yang menggerogoti masyarakat Amerika, Lonnie mengingatkan bahwa kebersamaan pernah terwujud nyata saat ribuan orang berbaris di jalanan Louisville pada pemakaman Ali pada 2016. Mereka datang dari segala latar belakang — kulit hitam, putih, kaya, miskin, beragama atau tak beragama — semua berdiri diam, menunduk, menangis, dan berdoa bersama.
“Ali tidak pernah meminta kita untuk mengaguminya. Ia meminta kita untuk menirunya,” ujar Lonnie. Dan hari ini, di setiap tindakan kebaikan kecil — membantu tetangga, mendengarkan yang kesepian, memperjuangkan keadilan — warisan Muhammad Ali tetap hidup. Bukan sebagai patung di taman, tapi sebagai panggilan untuk hidup dengan hati yang lebih besar.















