Home Berita Nasional MPLS Ramah 2026: Sesuaikan Kegiatan dengan Usia Murid

MPLS Ramah 2026: Sesuaikan Kegiatan dengan Usia Murid

Sumbawanews.com,- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar merancang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 secara berbeda sesuai tahap perkembangan usia peserta didik. Tujuannya jelas: menciptakan pengalaman awal yang hangat, aman, dan bermakna—bukan sekadar seremoni formal yang justru memicu kecemasan.

Direktur Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto, menekankan bahwa kesan pertama seorang murid terhadap sekolah bisa menentukan semangat belajarnya selama bertahun-tahun. “Di usia dini, belajar harus menyenangkan. Anak-anak PAUD butuh ruang untuk bermain, mengeksplorasi, dan merasa nyaman—bukan dihadapkan pada aturan kaku atau tekanan sosial,” ujarnya dalam webinar di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Untuk jenjang SD, MPLS dirancang sebagai ajang membangun kebiasaan positif: saling menyapa, menjaga kebersihan, dan mengenal guru serta teman baru melalui kegiatan kolaboratif yang menyentuh nilai-nilai karakter. Sementara di SMP, fokus dialihkan pada penguatan kepercayaan diri remaja, terutama dalam menghadapi dunia digital—dengan edukasi tentang etika bermedia, perlindungan diri, dan pengelolaan emosi.

Pada jenjang SMA dan SMK, kegiatan MPLS harus lebih matang, menyentuh aspek psikologis remaja yang sedang mencari identitas. “Mereka butuh ruang untuk bertanya, berdialog, dan merasa didengar. Bukan dihujani perintah atau diuji dengan tantangan yang memalukan,” tegas Gogot.

Senada, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa MPLS harus bebas dari segala bentuk perpeloncoan, perundungan, atau tekanan psikologis. “Anak-anak baru butuh guru yang ramah, kakak kelas yang bersahabat, dan lingkungan yang membuat mereka merasa aman—bukan takut,” katanya.

Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan teknis MPLS Ramah 2026 yang secara eksplisit melarang keterlibatan alumni dalam kegiatan tersebut, serta menekankan bahwa setiap aktivitas harus berbasis pendekatan pedagogis, bukan tradisi turun-temurun yang berpotensi merugikan.

Dengan pendekatan ini, MPLS bukan lagi sekadar “pembukaan tahun ajaran”, melainkan fondasi pertama dalam membangun hubungan antara sekolah dan murid—sebuah awal yang seharusnya diisi dengan kehangatan, bukan kekakuan; dengan kepercayaan, bukan ketakutan. Sebab, seperti kata Gogot, “kesan pertama seringkali menjadi kenangan terpanjang.”

Previous articleKeir Starmer Mundur, Gelombang Politik Inggris Bergeser
Next articleDjki Musnahkan Barang Ilegal Lacoste Senilai Hampir Rp1 Miliar
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik