Sumbawanews.com,- Di jantung Venice, di balik deru kanal dan gemuruh langkah penonton internasional, delapan tubuh bergerak di atas tangga bambu—tak sekadar tarian, tapi pernyataan. Karya teater fisik *Under the Volcano* karya sutradara Yusril Katil bukan sekadar pertunjukan seni di Venice Biennale Teatro 2026. Ia adalah sebuah manifesto budaya: ketika masyarakat Minangkabau, yang hidup di kaki gunung berapi, mengajarkan dunia tentang ketahanan bukan lewat kata-kata, tapi lewat gerak, bahasa, dan simbol.
Pertunjukan yang dipentaskan pada 16 dan 17 Juni 2026 itu mengangkat filosofi hidup Sumatera Barat yang jarang diungkap di panggung global: bahwa tangga bukan sekadar struktur fisik, melainkan metafora perjalanan manusia—naik, turun, terjatuh, bangkit. Di atas tangga bambu yang dibuat khusus, para penari mengalirkan gerak-gerak silat Kumango dan Silat Harimau, bukan sebagai pertunjukan bela diri, tapi sebagai kosakata tubuh yang mencerminkan kearifan lokal: tegar, dinamis, dan penuh kesadaran akan alam.
Yang paling berani justru keputusan untuk tetap menggunakan bahasa Minang dalam dialog. Tanpa terjemahan lisan, tanpa penyesuaian untuk memudahkan pemahaman asing, Yusril memilih mempertahankan keaslian suara. Teks terjemahan disediakan, bukan untuk mengganti, tapi untuk membuka pintu—agar keindahan bahasa daerah tetap bernyawa, bukan menjadi korban globalisasi yang homogen.
Dalam setiap gerakan, setiap jeda, setiap hembusan napas di antara tangga, terdengar bisikan sejarah: masyarakat Minang yang hidup berdampingan dengan letusan Gunung Marapi, bukan memilih lari, tapi belajar berdiri di atas abu. Bencana bukan akhir cerita, tapi bagian dari ritme kehidupan yang terus berdenyut.
Pendekatan ini menjadikan *Under the Volcano* lebih dari seni kontemporer—ia menjadi diplomasi budaya yang halus namun tegas. Di tengah dunia yang sering memaksa keunikan lokal untuk berpakaian global, Yusril justru menawarkan keunikan itu tanpa embel-embel. Ia membuktikan bahwa cerita dari kaki gunung Sumatera bisa menyentuh hati penonton di Venesia, tanpa harus menjadi cerita yang lain.
Karya ini bukan sekadar memperkenalkan budaya Minangkabau. Ia mengajak dunia untuk mendengar—bukan hanya melihat. Dan dalam diamnya gerak tubuh, dalam kekakuan tangga bambu yang menahan beban, terdengar satu pesan universal: ketahanan bukan soal kekuatan, tapi soal cara kita berdiri, meski di atas tanah yang terus bergerak.

















