Sumbawanews.com,- Setiap tahun, Menara Eiffel menjadi sasaran sambaran petir sebanyak lima hingga sepuluh kali—tanpa mengalami kerusakan signifikan. Fenomena ini kembali mencuri perhatian setelah video sambaran petir yang menghantam monumen ikonik Paris beredar viral di media sosial. Namun, para ahli teknik dan struktur menegaskan: tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dibangun dari rangka besi yang menjulang 300 meter di atas Sungai Seine, Menara Eiffel secara alami menjadi titik tertinggi di kawasan ibu kota Prancis. Ketika badai petir melanda Eropa Barat—terutama di tengah gelombang panas ekstrem yang meningkatkan frekuensi petir—struktur logam ini menjadi jalur paling mudah bagi muatan listrik untuk mencapai tanah.
Rahasia ketahanannya terletak pada sistem perlindungan petir yang dirancang berdasarkan prinsip sangkar Faraday. Arus listrik dari sambaran petir langsung disalurkan melalui kerangka besi menara, lalu dialirkan ke sistem grounding yang terpasang di dasar struktur. Proses ini memastikan energi listrik tidak menyebar ke area publik, lift, penerangan, maupun peralatan komunikasi di dalamnya.
Selain itu, sistem pelindung lonjakan arus (surge protector) juga melindungi jaringan kelistrikan sensitif yang mengoperasikan lampu, elevator, dan sistem pemantauan. Pengelola menara bahkan memiliki protokol darurat: saat badai tiba, sebagian area publik ditutup sementara sebagai langkah pencegahan, meski struktur utama tetap aman.
Ahli teknik menyebut desain ini bukan kebetulan, melainkan hasil perencanaan cermat sejak pembangunan menara pada 1889. Dengan bobot lebih dari 7.300 ton dan lebih dari 18.000 balok besi yang saling terhubung, Menara Eiffel sejatinya adalah sebuah “kondensor alami” yang dirancang untuk menyerap dan menyalurkan energi petir—bukan menolaknya.
Rekaman video yang menunjukkan kilatan petir menyambar puncak menara memang dramatis, tapi justru membuktikan bahwa sistem perlindungannya bekerja sebagaimana mestinya. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sering terjadi, Menara Eiffel tetap berdiri kokoh—bukan hanya sebagai simbol keindahan, tapi juga sebagai mahakarya teknik yang mengatasi kekuatan alam.















