Home Berita Nasional Megawati Sampaikan Doa Kemandirian di Makam Bung Karno

Megawati Sampaikan Doa Kemandirian di Makam Bung Karno

Sumbawanews.com,- Blitar — Dalam ziarah kebangsaan memperingati Haul Bung Karno ke-56, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menghadirkan doa yang tak hanya bersifat spiritual, tapi juga bernuansa politik historis. Di depan pusara sang pendiri bangsa, Megawati memohon agar Indonesia benar-benar merdeka dalam ekonomi, berdaulat dalam teknologi, dan mandiri dalam menentukan masa depannya.

Doa itu disampaikan secara tertutup, namun diungkap kembali oleh Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Said Abdullah, usai rombongan meninggalkan Makam Bung Karno di Kota Blitar, Minggu (14/6/2026). “Bangsa ini sejahtera, bangsa ini berdikari—itu yang disampaikan dalam doanya Ibu,” ujar Said, menirukan harapan Megawati yang terdengar pelan namun penuh tekad di ruang hening makam.

Rombongan Megawati, yang juga diisi oleh Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua Bidang Ideologi Djarot Saiful Hidayat, serta sejumlah kepala daerah dari Jawa Timur, tiba di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah sejam berziarah dalam suasana khidmat, mereka meninggalkan kompleks makam tanpa memberikan pernyataan resmi—kecuali Said Abdullah, yang menjadi suara pengingat akan pesan luhur sang pendiri.

Selain doa, Said juga mengumumkan rampungnya renovasi total rumah masa kecil Bung Karno di Istana Gebang, yang kini berubah menjadi museum sejarah. Proyek senilai Rp4,1 miliar ini dibiayai secara gotong royong oleh pengurus DPD PDIP Jawa Timur. “Semuanya direnovasi—dari struktur, interior, hingga koleksi artefak. Tidak ada yang dibiarkan tertinggal,” jelasnya.

Peresmian museum yang direncanakan berlangsung esok hari di Jalan Sultan Agung Nomor 59, Kelurahan Sananwetan, Blitar, akan dihadiri langsung oleh Megawati. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno, yang tahun ini mengangkat tema kemandirian nasional dan penolakan terhadap ketergantungan struktural.

Kehadiran Megawati di Blitar, yang dijaga ketat oleh 654 personel gabungan keamanan, bukan sekadar ritual kekeluargaan. Ini adalah pernyataan politik yang disampaikan lewat simbol: bahwa ideologi nasionalisme, keadilan sosial, dan kedaulatan rakyat—yang menjadi fondasi perjuangan Bung Karno—masih hidup dalam napas partai yang ia pimpin.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, doa Megawati di makam ayahnya bukan sekadar permohonan spiritual. Ia adalah seruan: agar bangsa ini tidak hanya mengenang sejarah, tapi benar-benar mewujudkannya.

Previous articleAparat Tertangkap Selundupkan Ratusan Satwa Endemik Papua
Next articleDemo BEM UI di Bundaran HI, Konstitusi vs Prosedur
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.