Home Berita Olah Raga Mbappe Dedikasikan Gol untuk Ibu, Deschamps Tercengang

Mbappe Dedikasikan Gol untuk Ibu, Deschamps Tercengang

Sumbawanews.com,- Prancis, 1 Juli 2026 — Ketika Kylian Mbappe meledakkan gol pembuka dalam kemenangan 3-0 Prancis atas Swedia di babak 32 besar Piala Dunia 2026, ia tidak hanya merayakan gol tersebut—ia memeluk pelatihnya, Didier Deschamps, dengan tangan yang masih basah oleh keringat dan air mata. Momen itu, sederhana namun menggetarkan, menjadi simbol kekuatan emosional yang jauh melampaui angka di papan skor.

Gol itu, yang ia dedikasikan untuk mendiang ibunya, bukan sekadar tanda kecemerlangan teknis. Ia adalah pengakuan akan kehilangan—dan bagaimana timnas Prancis, di bawah kepemimpinan Deschamps, bertahan bahkan saat sang pelatih harus absen dari kamp latihan karena duka pribadi. Deschamps, yang baru kembali ke pinggir lapangan setelah melewatkan laga terakhir fase grup, merasakan getaran mendalam dari sikap kapten timnya.

“Sikap Kylian benar-benar menyentuh hati saya,” ujar Deschamps dalam wawancara pasca-laga, seperti dilansir ESPN. “Dia adalah kapten kami. Saya katakan ini bukan karena ingin memuji, tapi karena sejak hari pertama, ia selalu menunjukkan kualitas yang luar biasa—bukan hanya sebagai pemain, tapi sebagai manusia.”

Dalam 90 menit di Stadion Internasional Paris, Mbappe bukan hanya mencetak gol pertama—ia menjadi jangkar moral. Kepemimpinannya terasa di setiap umpan, setiap larinya menuju ruang kosong, dan terutama di momen setelah gol, ketika ia berlari ke sisi lapangan, merangkul Deschamps tanpa kata—hanya pelukan yang mengatakan semuanya.

Deschamps, yang baru saja kehilangan ibunya, mengaku tidak bisa hadir di samping tim pada laga terakhir fase grup karena alasan pribadi. Ia memilih mundur sementara demi menjaga keseimbangan emosional—baik untuk dirinya maupun untuk skuad. “Dalam situasi seperti itu, lebih baik saya tidak ada di sana,” katanya. “Tapi ketika saya kembali, mereka tahu saya tetap bersama mereka. Itu hal yang sangat berarti.”

Di luar momen emosional, Prancis tampil sebagai mesin yang terukur. Tiga gol—dari Mbappe, Michael Olise, dan pemain pengganti yang mengejutkan—mengukuhkan dominasi Les Bleus. Di papan klasemen, Prancis tetap tak terkalahkan di Grup I, dengan sembilan poin sempurna dari tiga pertandingan, menjadi satu-satunya tim yang masih sempurna di turnamen ini.

Deschamps, yang kini memimpin timnya sebagai pelatih kepala dalam Piala Dunia ketiganya, menekankan bahwa kemenangan ini bukan soal individu. “Mentalitas tim bukan jaminan menang, tapi mentalitas buruk pasti membuat Anda kalah,” ujarnya. “Mereka tidak hanya bermain untuk saya. Mereka bermain untuk satu sama lain. Dan itulah yang membuat kami hebat.”

Di tengah sorotan yang terus menempatkan Mbappe di posisi puncak sebagai generasi emas, justru di sinilah kehebatan sejati terlihat: ketika seorang pemain muda, di puncak kejayaannya, memilih untuk mengingat ibunya—dan dalam keheningan pelukan, ia menyatukan seluruh tim di bawah beban duka yang sama.

Prancis melangkah ke babak 16 besar sebagai tim yang bukan hanya kuat, tapi juga manusiawi. Dan di balik semua gol, assist, dan rekor—ada satu momen yang tak akan pernah dilupakan: seorang kapten, berdiri di samping pelatihnya, dan memilih untuk mencintai lebih dari sekadar menang.

Previous articleFortuna Sittard Incar Pinjam Striker Timnas Indonesia Ole Romeny, Alasannya: Dana Terbatas
Next articleEmpat Klub Liga Italia Buru Kiper Timnas Indonesia Emil Audero