Sumbawanews.com,- Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah 3-2 dari Maroko dalam drama adu penalti di Stadion Monterrey, Meksiko, pada Rabu (30/6/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini mencatatkan sejarah langka: Justin Kluivert menjadi pemain kedua dalam keluarga Kluivert yang mengalami kegagalan melalui adu penalti di turnamen paling bergengsi sepak bola dunia.
Ayahnya, Patrick Kluivert, pernah merasakan pil pahit serupa 28 tahun silam. Di semifinal Piala Dunia 1998 di Marseille, ia gagal mengeksekusi penalti saat Belanda dikalahkan Brasil 4-2 setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Kini, Justin — yang tampil sebagai penendang keenam Belanda — gagal mengubah tendangannya menjadi gol, membiarkan kiper Maroko Bono menyelamatkan timnya dan mengakhiri mimpi Oranje di babak 32 besar.
Dengan kekalahan ini, pasangan ayah-anak Kluivert menjadi duo kedua dalam sejarah Piala Dunia yang sama-sama mengalami kegagalan lewat adu penalti. Sebelumnya, Lilian Thuram dan putranya Marcus Thuram memegang rekor serupa: Lilian kalah dari Italia di final Piala Dunia 2006, sementara Marcus tersingkir oleh Argentina di final Piala Dunia 2022.
Kekalahan Belanda ini sekaligus memperpanjang daftar kegagalan tim asal Eropa tersebut dalam adu penalti — yang kini telah terjadi sebanyak tujuh kali sejak 1990, menjadikannya tim paling sering kalah dalam drama 11 meter di kancah Piala Dunia.
Justin Kluivert, yang baru berusia 25 tahun dan menjadi andalan lini depan Belanda dalam turnamen ini, memegang erat kepalanya setelah tendangannya melambung di atas gawang. Di sisi lain, Maroko yang tampil tegar dan disiplin, kembali membuktikan diri sebagai kekuatan baru sepak bola Afrika, melangkah ke babak 16 besar dengan penuh percaya diri.
Dengan kepergian Belanda, dunia sepak bola menyaksikan satu lagi momen yang tak terlupakan: keabadian duka yang diwariskan dari ayah ke anak, dalam satu tendangan yang gagal mengubah takdir.















