Sumbawanews.com,- Kapten timnas Tanjung Verde, Ryan Mendes, saat ini sedang menjalani pemeriksaan oleh otoritas hukum di Selandia Baru terkait tuduhan pemerkosaan terhadap seorang penerjemah Brasil. Insiden ini terjadi pada Maret lalu, ketika tim Blue Sharks berada di Auckland untuk menjalani seri FIFA 2026, dan kini memicu ketegangan menjelang laga krusial melawan Argentina di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Menurut laporan Globo Esporte dan USA Today, korban—seorang penerjemah perempuan asal Brasil—melaporkan bahwa ia menjadi korban kekerasan seksual di dalam kamar hotel. Hasil pemeriksaan medis mengungkapkan adanya luka di area vagina serta memar di dada, leher, dan bibir. Laporan ini kemudian diserahkan kepada pejabat federasi sepak bola Tanjung Verde, namun tak ada respons resmi hingga kasus ini memasuki ranah hukum.
Mendes, yang menjadi pemain kunci dan simbol kepemimpinan di tengah keberhasilan Tanjung Verde menembus babak knockout untuk pertama kalinya dalam sejarah, masih dinyatakan sebagai bagian dari skuad timnas hingga proses hukum selesai. Ia telah bermain di ketiga laga fase grup, membantu timnya mengalahkan Uruguay 2-2, serta menahan imbang Spanyol dan Arab Saudi tanpa kebobolan, sehingga lolos sebagai runner-up Grup H.
FIFA menyatakan bahwa mereka menangani setiap tuduhan pelanggaran perilaku dengan serius, namun belum mengambil keputusan apa pun selama penyelidikan masih berlangsung. “Mohon dipahami bahwa kami belum bisa berkomentar lebih jauh pada saat ini,” demikian pernyataan resmi FIFA yang dikutip USA Today.
Federasi Sepak Bola Tanjung Verde juga dikabarkan sedang berkoordinasi dengan otoritas setempat dan badan dunia, sambil menahan diri dari pernyataan publik. Kepastian mengenai ketersediaan Mendes untuk laga melawan Argentina—yang dijadwalkan pada awal Juli mendatang—masih menunggu hasil penyelidikan hukum. Jika terbukti bersalah, kemungkinan besar ia akan dikeluarkan dari tim dan menghadapi sanksi disiplin berat dari FIFA.
Sementara itu, timnas Tanjung Verde tetap fokus pada persiapan teknis menjelang pertandingan melawan La Albiceleste. Namun, isu ini telah mengalihkan perhatian dari pencapaian sejarah mereka di turnamen dunia, dan memicu perdebatan global tentang tanggung jawab moral atlet di kancah internasional.















