Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 berakhir bagi Jerman dengan kekalahan memilukan dari Paraguay dalam adu penalti, Senin, 29 Juni 2026, di Stadion Foxborough, Massachusetts. Die Mannschaft, yang sebelumnya tak pernah kalah dalam adu penalti di ajang Piala Dunia, harus menyerah 3-4 setelah pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu. Gol sundulan Jonathan Tah yang dianulir VAR menjadi titik balik penuh kontroversi yang memperdalam kekecewaan para pemain dan suporter.
Mantan kapten tim nasional Jerman, Thomas Hitzlsperger, menilai kegagalan ini bukan sekadar masalah taktik, melainkan kehilangan jati diri sepak bola Jerman yang selama ini dikenal dengan semangat bertarung tanpa kompromi. “Ada sesuatu yang hilang—bukan hanya teknik, tapi jiwa. Mereka terlalu fokus pada umpan, umpan, dan umpan, tapi lupa bagaimana caranya berjuang saat tidak menguasai bola,” ujar Hitzlsperger dalam wawancara dengan BBC.
Ia membandingkan pendekatan Jerman dengan Argentina, yang meski tak selalu menguasai permainan, selalu menunjukkan ketahanan mental dan agresivitas di setiap duel. “Kami mengajarkan pemain untuk bermain indah. Tapi indah tanpa perjuangan adalah kosong,” tegasnya.
Hitzlsperger juga mengkritik ketergantungan tim asuhan Julian Nagelsmann pada satu pola permainan. Ketika strategi mengalirkan bola gagal diterapkan, tim tak memiliki rencana cadangan yang jelas. “Anda tidak bisa hanya punya rencana A. Anda butuh B, C, bahkan D. Tapi di sini, mereka seperti kehilangan arah begitu rencana utama gagal.”
Kekalahan ini memperpanjang tren buruk Jerman sejak menjuarai Piala Dunia 2014. Sejak itu, mereka belum pernah menang di fase gugur turnamen besar—hanya mampu mencapai semifinal Euro 2016. Kini, dengan tersingkir di babak 32 besar, tekanan untuk merevisi filosofi sepak bola Jerman semakin menggunung.
Paraguay, yang lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, melanjutkan kisah inspiratif mereka dengan melangkah ke babak 16 besar menghadapi pemenang laga Prancis vs Swedia. Sementara Jerman kembali dihadapkan pada evaluasi mendalam—bukan hanya soal pemain atau pelatih, tapi soal apa yang sebenarnya mereka pertahankan sebagai identitas sepak bola mereka.















