Sumbawanews.com,- Houston – Timnas Jepang kembali mengalami kegagalan memecah belenggu puasa kemenangan di fase gugur Piala Dunia. Dalam laga 32 besar Piala Dunia 2026 di Houston Stadium pada Selasa (30/6) dini hari WIB, Samurai Biru ditaklukkan Brasil 2-1, memperpanjang catatan buruk mereka sejak debut di turnamen ini pada 1998.
Pertandingan berlangsung dramatis. Jepang tampil mengejutkan dengan membuka skor lewat gol Kaishu Sano di babak pertama. Kemenangan 1-0 bertahan hingga turun minum, membuat fans Nippon berharap bisa menorehkan sejarah sebagai tim Asia pertama yang menang di babak knock-out Piala Dunia.
Namun, Brasil bangkit setelah jeda. Casemiro menyamakan kedudukan pada menit ke-57, mengembalikan kepercayaan Tim Samba. Mimpi Jepang hancur saat Gabriel Martinelli mencetak gol penentu di injury time, mengakhiri perlawanan tim asuhan Hajime Moriyasu dengan skor 2-1.
Kekalahan ini memperkuat catatan kelam Jepang di fase gugur Piala Dunia: belum pernah sekali pun menang dalam sembilan kesempatan sejak 1998. Di 2002, mereka tersingkir dari 16 besar oleh Turki; di 2010, kalah adu penalti dari Paraguay; di 2018, terperangkap dalam comeback 2-3 dari Belgia; dan di 2022, kembali gagal di babak 16 besar usai dikalahkan Kroasia lewat adu penalti 1-3.
Dengan kekalahan ini, Jepang pun menjadi tim pertama yang lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026—tapi gagal melangkah lebih jauh. Padahal, di fase grup, mereka tampil impresif: tidak terkalahkan, mencetak tujuh gol, dan menjaga clean sheet.
Riwayat Jepang di babak gugur Piala Dunia kini tercatat sebagai berikut:
– Prancis 1998: Fase Grup
– Korea-Jepang 2002: 16 Besar (kalah 0-1 dari Turki)
– Jerman 2006: Fase Grup
– Afrika Selatan 2010: 16 Besar (kalah adu penalti 3-5 dari Paraguay)
– Brasil 2014: Fase Grup
– Rusia 2018: 16 Besar (kalah 2-3 dari Belgia)
– Qatar 2022: 16 Besar (kalah adu penalti 1-3 dari Kroasia)
– USA/Meksiko/Kanada 2026: 32 Besar (kalah 1-2 dari Brasil)
Dengan kekalahan ini, Brasil melangkah ke babak 16 besar, sementara Jepang kembali menghembuskan napas panjang—tak mampu mengakhiri mimpi buruk yang telah berlangsung selama 28 tahun.















