Sumbawanews.com,- Lebih dari 8,8 miliar barel minyak mentah ditemukan di wilayah Gurun Najaf, Irak, dalam temuan yang bisa mengubah peta energi global. Cadangan raksasa ini terletak di Blok Qurnain, Provinsi Najaf, sekitar 180 kilometer dari ibu kota Baghdad dan membentang di sepanjang perbatasan dengan Arab Saudi—wilayah yang selama ini dianggap hanya berpotensi, bukan sebagai sumber utama.
Ladang baru ini mencakup area seluas 8.773 kilometer persegi, hampir setara dengan luas gabungan lima kota besar. Penemuan awal dari sumur eksplorasi Shams-11 menunjukkan minyak mentah ringan dengan produksi awal 3.248 barel per hari—angka yang mungkin terkesan kecil, tetapi menjadi indikator kuat akan kekayaan bawah tanah yang jauh lebih besar. Para ahli energi meyakini, ini bukan sekadar temuan, melainkan awal dari sebuah era baru bagi sektor minyak Irak.
Kini, Irak—yang sudah menjadi produsen minyak terbesar kedua di OPEC dengan cadangan terbukti 145 miliar barel—berpotensi melampaui batas itu. Temuan ini datang di momen krusial: ekspor negara itu terpukul oleh ketegangan regional, dengan 90 persen pasokan minyak bergantung pada Selat Hormuz, jalur strategis yang semakin rentan terhadap gangguan keamanan. Pada Maret 2026, ekspor Irak anjlok drastis dari 99 juta barel menjadi hanya 18,6 juta barel, dengan pendapatan turun dari 6,81 miliar dolar AS menjadi 1,96 miliar dolar AS.
Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur laut, Baghdad tengah mempercepat pembangunan pipa minyak raksasa dari Basra ke Haditha, dekat perbatasan Suriah. Proyek ini dirancang mampu mengangkut hingga 2,5 juta barel per hari, memberikan alternatif strategis jika Selat Hormuz terblokir.
Di tengah ketidakpastian ini, perusahaan minyak China, ZhenHua Oil, bergerak cepat. Dengan reputasi sebagai pemain kunci dalam investasi energi di Timur Tengah, ZhenHua sudah mulai melakukan kajian mendalam dan negosiasi awal dengan pemerintah Irak. Kepentingan China tidak hanya soal pasokan—tetapi juga soal geopolitik. Sebagai konsumen minyak terbesar dunia, Beijing terus memperluas jaringan akses energi, terutama di kawasan yang menghadapi risiko geopolitik tinggi.
Temuan di Najaf bukan sekadar tambahan cadangan. Ini adalah peluang bagi Irak untuk memperkuat posisi tawarnya di pasar global, sekaligus tantangan bagi dunia untuk menyesuaikan ulang alur perdagangan energi di tengah ketidakstabilan Timur Tengah. Dengan kecepatan ZhenHua dan ambisi Baghdad, ladang pasir tandus itu kini berubah menjadi medan pertarungan baru—bukan hanya untuk minyak, tapi untuk pengaruh masa depan.















