Sumbawanews.com,- Militer Iran mengumumkan penutupan penuh Selat Hormuz pada Kamis, 11 Juni 2026, menyusupkan ketegangan geopolitik ke jantung perdagangan energi global. Jalur strategis yang menjadi saluran 20 persen konsumsi minyak dunia—setara 18–20 juta barel per hari—kini tak lagi bisa dilewati kapal tanker, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak ke Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.
Menanggapi ancaman ini, Pemerintah Indonesia segera mengalihkan strategi impor minyak mentah. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengungkapkan bahwa Indonesia telah memperluas kemitraan dengan negara-negara penghasil minyak di luar jalur Timur Tengah. “Kami intensif bekerja sama dengan Azerbaijan, Nigeria, dan Angola,” ujar Arif usai rapat tertutup dengan Komisi I DPR di Jakarta.
Sumber-sumber baru ini, terutama dari benua Afrika, menjadi alternatif krusial yang menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz. Tidak hanya itu, pemerintah juga berhasil memperoleh izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela, membuka pintu bagi pasokan minyak dari Amerika Latin. “Kami akan memperkuat investasi di kawasan itu,” tegas Arif, menegaskan bahwa diversifikasi sumber energi bukan sekadar opsi, tapi kebutuhan strategis.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya risiko keamanan maritim. Perusahaan asuransi global mulai menolak memberikan jaminan bagi kapal yang berencana melintasi Selat Hormuz, mengingat ancaman serangan militer Iran terhadap semua bentuk pelayaran. Militer Iran, melalui Markas Besar Khatam Al-Anbiya, memperingatkan bahwa setiap pergerakan kapal di wilayah itu akan dianggap sebagai sasaran sah—sebuah respons terhadap serangan udara AS terhadap Provinsi Hormozgan di selatan Iran.
Meski komunikasi diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah tetap berjalan, Arif mengakui bahwa situasi politik kian memanas. “Kondisinya tidak stabil, dan kami harus siap untuk skenario terburuk,” katanya. Namun, ia menjamin bahwa pasokan minyak untuk kebutuhan domestik saat ini masih aman, berkat langkah-langkah antisipatif yang telah diambil sejak awal ketegangan.
Dengan mengalihkan rute impor dari Afrika dan Amerika Latin, Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas energi, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai negara yang mampu beradaptasi cepat dalam krisis global. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemandirian energi bukan lagi kemewahan—tapi keharusan.

















