Sumbawanews.com,- Google meluncurkan serangkaian fitur keamanan baru yang secara khusus dirancang untuk melindungi anak-anak di bawah usia 13 tahun dalam ekosistem Android Drop. Pembaruan ini, yang mulai diaktifkan pada bulan ini, mengintegrasikan alat deteksi cerdas dan respons darurat langsung ke perangkat, menjadikan ponsel bukan hanya alat hiburan, tapi juga pelindung aktif bagi pengguna termuda.
Fitur utama yang diperkenalkan mencakup tampilan informasi kesehatan kritis di layar kunci—seperti alergi makanan atau kondisi medis spesifik—yang bisa langsung dilihat oleh orang lain saat perangkat dalam keadaan terkunci. Ini memungkinkan pihak ketiga, seperti guru, pengasuh, atau petugas darurat, untuk segera mengetahui kebutuhan medis anak tanpa harus membuka perangkat.
Tak hanya itu, Google juga menghadirkan sistem “Deteksi Kecelakaan” yang secara otomatis mengaktifkan panggilan darurat dan mengirimkan lokasi real-time ke kontak darurat yang telah ditentukan oleh orang tua. Sistem ini memanfaatkan sensor gerak dan kecepatan perangkat untuk mengenali jatuh atau tabrakan yang berpotensi berbahaya, lalu memberi waktu lima detik bagi pengguna untuk membatalkan jika itu bukan keadaan darurat.
Untuk memperkuat keamanan jangka panjang, fitur *Safety Check* kini bisa dijadwalkan secara otomatis. Anak-anak akan menerima pengingat berkala untuk memastikan mereka dalam keadaan aman, dan jika tidak merespons, sistem akan secara otomatis memberi tahu orang tua atau kontak darurat, termasuk berbagi lokasi terkini melalui Google Maps.
Semua fitur ini dirancang untuk berjalan di Android 12 atau versi lebih baru. Namun, implementasinya bervariasi tergantung produsen perangkat. Pada perangkat Samsung, misalnya, fitur-fitur inti seperti *check-in* otomatis dan panggilan darurat terintegrasi dalam menu “Keamanan dan Kondisi Darurat” di pengaturan One UI, sementara di perangkat lain mungkin hanya muncul sebagai aplikasi terpisah bernama “Keamanan.”
Google menekankan bahwa semua data yang dikumpulkan tetap dienkripsi dan hanya dapat diakses oleh orang tua atau wali yang telah mengatur akun anak melalui Google Family Link. Tidak ada data biometrik atau lokasi yang disimpan secara permanen di server pihak ketiga.
Pembaruan ini menjadi bagian dari upaya Google untuk menjawab meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan digital anak-anak, terutama setelah beberapa negara seperti Malaysia melarang penggunaan media sosial oleh anak di bawah usia tertentu. Dengan menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dan desain berpusat pada keselamatan, Google berusaha mengubah ponsel dari ancaman potensial menjadi alat perlindungan yang cerdas dan responsif.
Fitur-fitur ini mulai tersedia secara bertahap bagi pengguna di seluruh dunia, dengan prioritas utama diberikan kepada wilayah yang memiliki tingkat penggunaan ponsel anak tertinggi.

















