Sumbawanews.com,- Sebuah kelompok musisi independen menggugat Google karena diduga memanfaatkan lagu-lagu yang diunggah pengguna ke YouTube untuk melatih model kecerdasan buatan musiknya, Lyria 3. Meski perusahaan enggan mengonfirmasi secara langsung, bukti-bukti tak terbantahkan menunjukkan praktik itu telah berlangsung.
Gugatan yang diajukan di pengadilan federal AS menuduh Google melanggar hak cipta dengan menggunakan rekaman musik pengguna tanpa izin eksplisit. Google merespons dengan mengajukan permohonan untuk membatalkan gugatan tersebut, dengan alasan bahwa pengguna secara otomatis memberikan lisensi luas kepada YouTube melalui Syarat dan Ketentuan layanan—yang memperbolehkan perusahaan untuk “mereproduksi, mendistribusikan, dan membuat karya turunan” dari konten yang diunggah.
Namun, keengganan Google untuk secara terbuka mengakui penggunaan konten YouTube untuk melatih Lyria 3 justru memperkuat dugaan bahwa perusahaan sengaja mempertahankan “plausible deniability”—kemampuan untuk menyangkal tanpa benar-benar berbohong. Ini bukan sekadar strategi hukum; ini adalah kebijakan yang disengaja.
Pada April 2024, CEO YouTube Neal Mohan secara terbuka mengakui bahwa “sebagian konten” di platform itu digunakan untuk melatih model AI seperti Gemini. Pernyataan serupa ditegaskan dalam blog resmi Google yang menyebut penggunaan konten YouTube untuk “meningkatkan pengalaman pengguna melalui aplikasi machine learning dan AI.” Bahkan, CNBC melaporkan pada Juni 2025 bahwa Google secara eksplisit mengakui memanfaatkan unggahan YouTube untuk melatih Veo dan Gemini.
Yang tak pernah diakui—sampai sekarang—adalah penggunaan data yang sama untuk Lyria 3. Padahal, secara teknis dan fungsional, Lyria adalah bagian dari ekosistem AI Google yang sama: ia dibangun di atas infrastruktur yang sama, menggunakan sumber daya yang sama, dan bertujuan untuk menghasilkan musik yang meniru gaya manusia. Jika Google bisa mengakui penggunaan konten untuk Gemini dan Veo, mengapa tidak untuk Lyria?
Bagi para musisi independen yang menjadi pihak tergugat, ini bukan soal teknis lisensi. Ini tentang penghormatan terhadap karya cipta. Banyak dari mereka mengunggah lagu bukan untuk memberi Google hak komersial atasnya, tapi untuk berbagi dengan dunia—bukan untuk menjadi bahan baku pelatihan AI raksasa teknologi.
Google mungkin berdalih bahwa lisensi penggunaan bersifat “luas,” tetapi tidak ada yang secara eksplisit menyetujui bahwa lagu pribadinya akan menjadi pelatih bagi mesin yang bisa menghasilkan salinan musiknya tanpa izin, tanpa kompensasi, bahkan tanpa atribusi. Dalam dunia di mana AI semakin mengaburkan batas antara kreativitas manusia dan replikasi mesin, kejelasan etis lebih penting daripada kejelasan hukum.
Dengan gugatan ini, para musisi bukan hanya mempertahankan hak mereka—mereka juga mempertanyakan: siapa yang sebenarnya yang membangun AI, jika bukan para pencipta yang tak pernah diundang ke meja perundingan?

















