Sumbawanews.com,- Jakarta – Ratusan calon jemaah umrah yang gagal berangkat meluapkan kemarahan langsung di depan kantor cabang Hanania Travel di Gedung EightyEight, Mal Kota Kasablanka, Jakarta. Mereka yang telah membayar hingga puluhan juta rupiah untuk paket umrah, mendapati janji perjalanan yang tak pernah terealisasi—uang hilang, dokumen tak jelas, dan komunikasi dari pihak perusahaan terputus selama berbulan-bulan.
Ketegangan memuncak saat sejumlah korban mendatangi kantor perusahaan, memaksa bertemu pemilik. Saat pemilik Hanania Travel akhirnya muncul, ledakan emosi tak terbendung. “Ini uang haji saya! Saya jual emas, pinjam uang keluarga, demi bisa berangkat!” teriak seorang ibu berusia 52 tahun sambil menangis, diiringi sorakan massa lain yang mengecam dengan teriakan “Jangan kabur!” dan “Kembalikan uang kami!”
Para korban menyatakan, mereka tidak hanya kehilangan uang—ratusan juta rupiah yang terkumpul dari hasil tabungan bertahun-tahun—tapi juga kehilangan kesempatan spiritual yang sudah lama mereka impikan. Beberapa di antaranya bahkan telah menunda urusan keluarga, cuti kerja, dan bahkan perawatan medis demi memenuhi syarat keberangkatan.
Polisi yang datang atas laporan warga pun langsung mengamankan lokasi. Namun, bukan sekadar pengamanan—mereka membawa pemilik perusahaan ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Di dalam mobil patroli, teriakan korban masih terdengar: “Kamu tahu apa artinya umrah bagi kami? Bukan sekadar jalan-jalan!”
Menurut data yang dihimpun, lebih dari 300 orang menjadi korban penipuan ini, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp14 miliar. Sebagian besar transaksi dilakukan melalui transfer pribadi, tanpa kontrak resmi atau bukti pembayaran resmi dari biro perjalanan haji dan umrah yang terdaftar di Kementerian Agama.
Kepolisian menyatakan sedang mengusut dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan dana. Sementara itu, para korban menuntut keadilan bukan hanya secara hukum, tapi juga moral—mengingat banyak di antara mereka adalah lansia, ibu rumah tangga, dan pekerja swasta yang mengorbankan seluruh tabungan demi satu impian: menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Di tengah hiruk-pikuk protes, seorang pria tua berdiri diam, memegang koper kecil berisi pakaian ihram yang belum pernah dipakai. “Saya sudah menunggu dua tahun,” katanya pelan. “Dan sekarang, saya tidak tahu apakah saya masih punya kesempatan untuk pergi.”















