Home Berita Nasional Diplomasi Kedamaian dari Jalan Teuku Umar

Diplomasi Kedamaian dari Jalan Teuku Umar

Sumbawanews.com,- Di rumah sederhana di Menteng, Jakarta, di mana langit tak pernah terlalu tinggi dan ruang tamu tak pernah terlalu besar, Megawati Soekarnoputri memelihara sebuah tradisi lama: diplomasi bukan hanya urusan kantor luar negeri, tapi juga hati yang terbuka.

Sejak awal 2026, kediamannya di Jalan Teuku Umar menjadi magnet bagi duta besar, kepala negara, dan tokoh intelektual dari berbagai benua—dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, dari Eropa hingga Australia. Mereka datang bukan hanya untuk membahas konflik, tapi untuk mendengar suara yang tak pernah lelah mengingatkan dunia: perdamaian bukanlah mimpi, tapi pilihan yang harus dibangun setiap hari.

Ketegangan di Timur Tengah menjadi pusat pembicaraan. Saat serangan militer terhadap Iran menewaskan Ayatullah Ali Khamenei pada Februari 2026, Megawati bukan sekadar menyampaikan duka. Ia menulis surat pribadi—dikirim melalui Kedutaan Iran di Jakarta—yang menyebut Khamenei sebagai sosok yang “berdekatan secara spiritual dan filosofis” dengan Bung Karno. Dalam surat itu, ia menegaskan: “Indonesia berdiri bersama rakyat Iran menolak agresi sepihak yang melanggar kedaulatan dan membahayakan perdamaian global.”

Ketika Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Megawati kembali menulis—kali ini untuk menyampaikan selamat dan doa agar bangsa Iran memperoleh kemajuan yang adil dan bermartabat. Di pertemuan dengan duta besar Irak, ia mengingatkan kembali pidato Bung Karno di PBB tahun 1960, “To Build the World Anew,” yang menyerukan reformasi tata dunia, anti-kolonialisme, dan Pancasila sebagai fondasi perdamaian. “Bung Karno sudah bicara soal reformasi PBB jauh sebelum isu itu jadi tren global,” ujar Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, Kuasa Usaha Ad Interim Irak, yang pernah bekerja di PBB.

Tak hanya soal konflik, Megawati juga menawarkan solusi konkret. Saat Duta Besar Arab Saudi Faisal Abdullah Al Amoudi meminta Indonesia berperan aktif dalam meredam ketegangan di Timur Tengah, ia menjawab: “Saya siap menjadi jembatan.” Ia lalu mengusulkan proyek simbolis: menanam “Pohon Soekarno” di Mekah—sebagai bagian dari kampanye penanaman 10 miliar pohon Arab Saudi. Sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati menawarkan hasil penelitian tentang jenis pohon yang cocok dengan iklim gurun, sekaligus menyumbang bibitnya.

Di ruang tamu yang sama, ia menangis ketika Duta Besar Palestina, Abdalfatah A.K. Alsattari, menceritakan penderitaan rakyatnya. “Israel bisa menghancurkan rumah, tapi tidak bisa menghancurkan jiwa yang tak mau menyerah,” katanya. “Seperti Indonesia dulu. Dan saya yakin, kemerdekaan Palestina yang paripurna akan datang.”

Di luar isu geopolitik, ia membangun jembatan lain: ilmu pengetahuan. Bersama Rektor UTAR Malaysia, Professor Dato’ Dr. Ewe Hong Tat, ia membahas kerja sama riset dalam biodiversitas, pangan berkelanjutan, dan mitigasi iklim. Dengan Rusia dan India, ia mengenang kembali persahabatan Bung Karno dengan Nasser, Nehru, dan Tito—sebuah jaringan yang melahirkan Gerakan Non-Blok.

Bahkan, dalam pertemuan dengan Duta Besar Jerman, Korea Selatan, dan Australia, topiknya meluas: kesetaraan perempuan, dinamika demokrasi, hingga reunifikasi Korea. Semua dibahas dengan tenang, tanpa protokol berlebihan, tapi dengan kedalaman yang jarang ditemukan di forum internasional.

Tak ada podium megah. Tak ada karpet merah. Hanya cendera mata: batik, tenun, miniatur Borobudur, Perahu Pinisi, dan buku-buku tentang perjuangan kemerdekaan. Itulah diplomasi versi Megawati—bukan perang kata, tapi pertukaran makna.

Ia mengingatkan: “Ayah saya selalu bilang, tamu negara adalah utusan kedaulatan. Mereka bukan sekadar tamu, tapi perwakilan sejarah, budaya, dan harapan bangsa mereka.”

Dari ruang tamu sederhana di Menteng, seorang perempuan yang pernah memimpin negara terbesar di Asia Tenggara itu terus bekerja—bukan untuk kekuasaan, tapi untuk perdamaian. Dan dunia, perlahan-lahan, mulai mendengar.

Previous articleMegawati dan Prabowo Berdialog di Hari Pancasila
Next articleKPK Tunggu Persidangan Terkait Dugaan Suap Kuota Haji
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik