Home Berita Nasional Beruang Masuk Kebun, Petani Lampung Gelisah

Beruang Masuk Kebun, Petani Lampung Gelisah

Sumbawanews.com,- Warga Pekon Kali Sari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, digegerkan oleh kemunculan seekor beruang liar di area perkebunan. Satwa berukuran sedang itu terlihat berkeliaran di bawah pohon jengkol, tak jauh dari aliran sungai, membuat para petani takut keluar rumah, apalagi menjaga tanaman di malam hari.

Laporan warga langsung ditindaklanjuti oleh Polsek Wonosobo. Kapolsek Iptu Primadona Laila mengatakan, petugas bersama aparat desa segera mendatangi lokasi untuk memastikan keberadaan hewan tersebut. Di lokasi, ditemukan jejak cakaran di batang pohon dan tanda-tanda sarang di atas dahan—petunjuk kuat bahwa beruang itu bukan sekadar lewat, tapi mempertimbangkan area itu sebagai wilayah sementara.

“Warga sangat khawatir. Kebun mereka berada di jalur yang sering dilalui, bahkan ada yang baru saja panen jengkol. Jika beruang kembali, kami imbau jangan mendekat, apalagi mencoba mengusirnya sendiri,” ujar Kanit Intel Aipda Fuad Hamidi, yang memimpin operasi pemantauan.

Kemunculan beruang ini bukan kejadian acak. Wilayah Tanggamus, yang berbatasan dengan hutan lindung dan kawasan konservasi, kerap menjadi lintasan satwa liar yang terdesak oleh ekspansi lahan pertanian. Sebelumnya, kasus serupa pernah terjadi di Musi Rawas, di mana beruang madu menyerang ternak warga. Kini, petani di Lampung diminta waspada, sementara pihak berwenang bersiap mengkoordinasikan penanganan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun dampak psikologisnya nyata. Para petani mengaku tak lagi bisa tidur nyenyak setelah matahari terbenam. Beberapa bahkan mempertimbangkan untuk menghentikan sementara aktivitas di kebun hingga kepastian keamanan datang.

Pemerintah daerah diminta segera merespons dengan langkah preventif: pemasangan kamera jebak, sosialisasi kepada masyarakat, dan evaluasi batas antara lahan pertanian dengan kawasan hutan. Sebab, di tengah perubahan iklim dan tekanan ekologi, konflik manusia-beruang bukan lagi ancaman lokal—tapi indikator sistemik yang harus diatasi sebelum menjadi bencana lebih besar.

Previous articleNintendo Perbarui eShop, Responsif dan Gelap Sekarang
Next articleEl Nino Terkuat dalam 70 Tahun Mengancam Dunia
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.