Sumbawanews.com,- Australia memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang sedang berkembang di Pasifik tropis kemungkinan akan menjadi yang paling intens dalam tujuh dekade terakhir. Biro Meteorologi Australia menyatakan bahwa suhu permukaan laut telah melampaui ambang batas kritis, sementara indikator atmosfer menunjukkan bahwa pola cuaca ini telah secara resmi terbentuk dan berpotensi memperburuk kondisi iklim global pada paruh kedua 2026.
Menurut analisis terbaru, sekitar setengah dari model prediksi cuaca global memproyeksikan bahwa El Nino ini bisa mencapai puncak tertinggi yang pernah tercatat sejak 1950. Fenomena ini diperkirakan akan membawa hujan ekstrem ke sebagian wilayah Amerika, sementara Asia — termasuk Indonesia — menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, kering, dan ekstrem. Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, memperdalam krisis pangan di negara-negara yang sudah terbebani oleh gangguan produksi pertanian.
Di Australia, dampaknya terasa jelas: curah hujan di musim dingin dan semi diperkirakan menurun drastis, terutama di pantai timur, sementara suhu siang hari akan meningkat signifikan di wilayah selatan. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa El Nino akan aktif segera dan bertahan hingga 2027, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, kekeringan air bersih, serta gangguan pada ketahanan pangan.
Para ilmuwan menggarisbawahi bahwa perubahan iklim akibat pemanasan global telah memperparah intensitas El Nino kali ini. Dibandingkan dengan peristiwa serupa di masa lalu — seperti El Nino 1997-1998 atau bahkan bencana kelaparan tahun 1877-1878 yang menewaskan jutaan orang — kali ini dampaknya tidak hanya alamiah, tetapi juga diperkuat oleh akumulasi emisi karbon selama puluhan tahun.
Pemerintah dan lembaga kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara diminta segera memperkuat kesiapsiagaan, mulai dari pengelolaan sumber daya air, distribusi bantuan pangan, hingga pencegahan karhutla. Tanpa tindakan kolektif yang cepat dan terkoordinasi, ancaman ini bukan sekadar cuaca buruk — tapi ujian terberat terhadap ketahanan iklim dan pangan global dalam generasi ini.















