Sumbawanews.com,- Pelatih Timnas Portugal, Roberto Martinez, menegaskan bahwa membandingkan Cristiano Ronaldo dengan Lionel Messi adalah tindakan yang tak dewasa dan tidak produktif. Pernyataan itu ia sampaikan menyusul kritik yang kembali menghampiri Ronaldo usai performanya di laga fase grup Piala Dunia 2026 dinilai kurang memukau.
Portugal gagal meraih posisi teratas di Grup K setelah bermain imbang 0-0 melawan Kolombia. Hasil itu membuat Selecao das Quinas harus finis runner-up dan menghadapi jalur lebih berat di babak 32 besar, dengan lawan pertama mereka adalah Kroasia. Sementara itu, Ronaldo, yang kini berusia 41 tahun, hanya mencatatkan expected goals (xG) sebesar 0,13 sepanjang pertandingan—angka yang jauh di bawah harapan bagi seorang penyerang sekelasnya.
Meski demikian, Martinez membela sang kapten. Ia menilai perdebatan berkelanjutan tentang siapa yang lebih hebat antara Ronaldo dan Messi justru mengaburkan fokus pada permainan tim dan perkembangan sepak bola modern. “Membandingkan mereka seperti meminta anak kecil memilih antara dua mainan favoritnya,” ujar Martinez. “Mereka adalah dua legenda yang berbeda, dengan jalan hidup, gaya, dan kontribusi yang tak bisa disamakan. Mengukur kehebatan mereka dengan angka atau trofi saja sudah cukup menghina keagungan karier mereka.”
Martinez menekankan bahwa Ronaldo tetap menjadi simbol ketahanan, disiplin, dan semangat juang yang luar biasa—kualitas yang tetap relevan meski usianya terus bertambah. Ia juga menyoroti bahwa kritik terhadap Ronaldo sering kali bersifat emosional, bukan analitis, dan justru mengabaikan kontribusi besar yang ia berikan bagi sepak bola global selama lebih dari dua dekade.
Dalam laga melawan Kolombia, Portugal memang tampak kurang tajam di depan gawang, namun Martinez menegaskan bahwa timnya masih punya peluang besar untuk melangkah jauh. “Kami tidak bermain untuk sejarah, tapi untuk masa depan. Dan masa depan itu masih terbuka lebar.”
Sementara itu, Kolombia yang lolos sebagai juara grup akan menghadapi Ghana di babak 32 besar, dengan kemungkinan bertemu Swiss atau Aljazair di putaran berikutnya—jalur yang dianggap lebih ringan dibandingkan jalan yang ditempuh Portugal.
Pernyataan Martinez ini menjadi sorotan di tengah gencarnya perdebatan di media sosial dan ruang diskusi sepak bola tentang perbandingan antara dua pemain terhebat sepanjang masa. Namun, bagi sang pelatih, yang lebih penting adalah menghargai keduanya—bukan mempertentangkannya.















